|
Petugas Perpustakaan Keliling Itu
Ingin Jadi Pegawai Tetap
Jakarta-Di sebuah ruangan perpustakaan berukuran 10x12 meter,
beberapa anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah terlihat
serius membolak-balik lembaran halaman buku. Beberapa menit kemudian
mereka bersama-sama beranjak dan pergi.
Ruangan itu pun menjadi kosong dan lengang hanya ditinggali oleh
deretan rak-rak buku serta beberapa meja dan kursi. Hanya ada
beberapa karyawannya saja. Siang itu waktu telah menunjukkan pukul
14.00 WIB bersamaan dengan berakhirnya proses belajar mengajar di
sekolah.
”Jailani, Usman, ke sini sebentar,” panggil Bu Peny, staf bagian
tata usaha di perpustakaan itu. Kedua lelaki itu mengintip dan
muncul dari balik rak buku. Mereka tersenyum. Sepertinya ada sesuatu
hal yang lucu yang mereka bicarakan sebelumnya. ”Bapak ini mau
omong-omong dengan kalian,” lanjut Bu Peny.
Demikian awal perkenalan SH dengan Pak Usman dan Jailani, dua dari
enam petugas perpustakaan keliling di Kantor Perpustakaan Kotamadya
Jakarta Timur, yang terletak di belakang Keluruhan Rawa Bening,
Jatinegara, Jakarta Timur. Pak Usman dan Jailani terlihat ramah dan
terbuka menceritakan pengalamannya.
Pak Usman, misalnya. Pria yang murah tersenyum itu menceritakan
bahwa setiap pagi hingga petang, ia bersama rekannya ini harus
beranjak dari satu sekolah ke sekolah lain dan berkeliling untuk
menawarkan jasa bagi warga untuk membaca buku.
Dengan sistem ”lesehan”, buku-buku dipajang di atas sebuh lembaran
tikar dan keranjang. Bila sudah begini, keteraturan dan ketertiban
pembaca sangat dibutuhkan oleh Pak Usman dan Jailani agar semua
pencatatan terhadap peminjaman buku dapat berjalan dengan baik.
Tentunya harapan dan keinginan itu tidak selalu berjalan. Pak Usman
mengeluhkan beberapa sekolah yang kurang memberi perhatian kepada
mereka, dalam artian sekolah tersebut tidak membantu mereka untuk
mengawasi anak didiknya membaca buku. Tujuan kedatangan mereka
padahal membantu sekolah tersebut melalui buku-buku yang mereka
sediakan.
”Yang kita prioritaskan adalah sekolah atau kelurahan yang letaknya
jauh dari perpustakaan-perpustakaan umum. Tapi begitulah,
kadang-kadang kita datang untuk mereka, tapi kita tidak dibantu.
Itulah suka-duka kerja,” ujarnya sembari tersenyum.
Untuk merangsang minat pembacanya, Pak Usman menjelaskan bahwa
perpustakaan mereka setiap tahun disuntik sekitar 1.500 judul buku.
Semuanya akan dibawa berkeliling secara bergantian oleh tiga armada.
Setiap armada terdiri dari dua orang.
Selain Pak Usman dan Jailani, keempat rekannya yang lain adalah
Faisal, Rohid, Tri, dan Gojali. Setiap hari, mulai Senin hingga
Kamis sekitar 200 judul buku per armada secara bergantian dibawa
berkeliling oleh mereka.
Mereka harus selalu teliti menghitung ulang jumlahnya setiap kali
berangkat dari satu tempat menuju tempat lain. Tujuannya untuk
memastikan pencatatan jumlah buku tidak ada yang hilang.
”Kalau kita nggak teliti, bisa pada hilang. Alhamdulillah sampai
saat ini jarang yang hilang meskipun satu dua kali ada yang hilang,”
timpal Jailani.
Tenaga Sukarela
Upaya untuk menjangkau masyarakat kecil bagi Pak Usman dan Jailani
ternyata tidak semudah seperti yang diucapkan bayak orang.
Ketidakpedulian pemerintah selalu menjadi alasan.
Dalam sembilan tahun pengalamannya bekerja sebagai petugas
perpustakan keliling, Pak Usman mengatakan kesadaran dan minat baca
masyarakat kecil sangat rendah. Di beberapa tempat seperti di
Cijantung, Pondok Kelapa, di mana banyak warga dari kelas menengah
ke atas, justru minat bacanya lebih besar.
Keberadaan Pak Usman dan Jailani serta rekan-rekannya yang lain
padahal untuk membantu masyarakat kecil memperoleh kesempatan
membaca buku sebanyak-banyaknya yang sulit mereka peroleh dengan
membeli.
Pak Usman dan Jailani bercerita bahwa mereka berdua juga adalah
orang kecil, namun suka membaca, sehingga mengabdikan diri mereka
membantu masyarakat mendapatkan informasi dan pendidikan
sebanyak-banyaknya melalui perpustakaan keliling.
”Semakin banyak membaca, semakin banyak tahu. Supaya kita jangan
ketinggalan dan tidak dibodoh-bodohi orang lain,” ujar Jailani.
Namun di sisi lain, kegalauan dan ketidakpastian tengah meliputi
mereka. Pasalnya keenam petugas perpustakaan keliling itu ternyata
masih menjadi tenaga sukarela dan belum diangkat menjadi pegawai
tetap.
Bisa dibayangkan, berapa honor yang mereka peroleh sebagai tenaga
sukarela, tidak lebih tinggi dari Upah Minimun Regional (UMR).
Namun, mereka tidak mau menyebutkan angkanya. Kondisi yang demikian
membuat Jailani harus membuka usaha lain di luar jam kerjanya untuk
mencari tambahan untuk kebutuhan keluarga.
Totalitas dan keloyalan yang ditunjukan Pak Usman, misalnya, dengan
lama waktu bekerja sembilan tahun, ternyata juga dianggap belum
cukup menjadi poin untuk menjadi pegawai tetap. Seminggu yang lalu,
Jailani menceritakan bahwa mereka telah menyampaikan keingian mereka
kepada Komisi E bagian pendidikan, ketika mereka dikunjungi.
Dalam kesempatan itu, mereka meminta tolang supaya dipertimbangkan
untuk mengangkat mereka menjadi pegawai tetap. Jawaban yang
diperoleh dari Komisi E pada saat itu adalah mereka berjanji akan
mengusahakan upaya tersebut.
Lalu kapan kepastian itu akan datang? Seorang staf di kantor
perpustakaan yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan masalah
perekrutan pegawai bukan wewenang mereka untuk menentukan, melainkan
Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dengan dijembatani Perpustakaan Umum
Daerah (Perpumda).
Ia mengakui dengan segala keterbatasan jumlah pegawai yang dimiliki
perpustakaan kotamadya itu, tenaga sukarela seperti Pak Usman dan
rekan-rekannya itulah yang diandalkan untuk menjalankan tugas
khususnya di bagian perpustakaan keliling. Namun, persolan
pengangkatan pegawai adalah mutlak urusan BKD.
”Kami nggak muluk-muluk Bang. Kalau boleh kami diangkat jadi pegawai
tetap, itu saja,” ujar Pak Usman dan Jailani penuh harap.(SH/rafael
sebayang)
|
|