Selasa, 23 September 2003

J A B O T A B E K

No.  4515

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Petugas Perpustakaan Keliling Itu Ingin Jadi Pegawai Tetap

 


Jakarta-Di sebuah ruangan perpustakaan berukuran 10x12 meter, beberapa anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah terlihat serius membolak-balik lembaran halaman buku. Beberapa menit kemudian mereka bersama-sama beranjak dan pergi.
Ruangan itu pun menjadi kosong dan lengang hanya ditinggali oleh deretan rak-rak buku serta beberapa meja dan kursi. Hanya ada beberapa karyawannya saja. Siang itu waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB bersamaan dengan berakhirnya proses belajar mengajar di sekolah.
”Jailani, Usman, ke sini sebentar,” panggil Bu Peny, staf bagian tata usaha di perpustakaan itu. Kedua lelaki itu mengintip dan muncul dari balik rak buku. Mereka tersenyum. Sepertinya ada sesuatu hal yang lucu yang mereka bicarakan sebelumnya. ”Bapak ini mau omong-omong dengan kalian,” lanjut Bu Peny.
Demikian awal perkenalan SH dengan Pak Usman dan Jailani, dua dari enam petugas perpustakaan keliling di Kantor Perpustakaan Kotamadya Jakarta Timur, yang terletak di belakang Keluruhan Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur. Pak Usman dan Jailani terlihat ramah dan terbuka menceritakan pengalamannya.
Pak Usman, misalnya. Pria yang murah tersenyum itu menceritakan bahwa setiap pagi hingga petang, ia bersama rekannya ini harus beranjak dari satu sekolah ke sekolah lain dan berkeliling untuk menawarkan jasa bagi warga untuk membaca buku.
Dengan sistem ”lesehan”, buku-buku dipajang di atas sebuh lembaran tikar dan keranjang. Bila sudah begini, keteraturan dan ketertiban pembaca sangat dibutuhkan oleh Pak Usman dan Jailani agar semua pencatatan terhadap peminjaman buku dapat berjalan dengan baik.
Tentunya harapan dan keinginan itu tidak selalu berjalan. Pak Usman mengeluhkan beberapa sekolah yang kurang memberi perhatian kepada mereka, dalam artian sekolah tersebut tidak membantu mereka untuk mengawasi anak didiknya membaca buku. Tujuan kedatangan mereka padahal membantu sekolah tersebut melalui buku-buku yang mereka sediakan.
”Yang kita prioritaskan adalah sekolah atau kelurahan yang letaknya jauh dari perpustakaan-perpustakaan umum. Tapi begitulah, kadang-kadang kita datang untuk mereka, tapi kita tidak dibantu. Itulah suka-duka kerja,” ujarnya sembari tersenyum.
Untuk merangsang minat pembacanya, Pak Usman menjelaskan bahwa perpustakaan mereka setiap tahun disuntik sekitar 1.500 judul buku. Semuanya akan dibawa berkeliling secara bergantian oleh tiga armada. Setiap armada terdiri dari dua orang.
Selain Pak Usman dan Jailani, keempat rekannya yang lain adalah Faisal, Rohid, Tri, dan Gojali. Setiap hari, mulai Senin hingga Kamis sekitar 200 judul buku per armada secara bergantian dibawa berkeliling oleh mereka.
Mereka harus selalu teliti menghitung ulang jumlahnya setiap kali berangkat dari satu tempat menuju tempat lain. Tujuannya untuk memastikan pencatatan jumlah buku tidak ada yang hilang.
”Kalau kita nggak teliti, bisa pada hilang. Alhamdulillah sampai saat ini jarang yang hilang meskipun satu dua kali ada yang hilang,” timpal Jailani.

Tenaga Sukarela
Upaya untuk menjangkau masyarakat kecil bagi Pak Usman dan Jailani ternyata tidak semudah seperti yang diucapkan bayak orang. Ketidakpedulian pemerintah selalu menjadi alasan.
Dalam sembilan tahun pengalamannya bekerja sebagai petugas perpustakan keliling, Pak Usman mengatakan kesadaran dan minat baca masyarakat kecil sangat rendah. Di beberapa tempat seperti di Cijantung, Pondok Kelapa, di mana banyak warga dari kelas menengah ke atas, justru minat bacanya lebih besar.
Keberadaan Pak Usman dan Jailani serta rekan-rekannya yang lain padahal untuk membantu masyarakat kecil memperoleh kesempatan membaca buku sebanyak-banyaknya yang sulit mereka peroleh dengan membeli.
Pak Usman dan Jailani bercerita bahwa mereka berdua juga adalah orang kecil, namun suka membaca, sehingga mengabdikan diri mereka membantu masyarakat mendapatkan informasi dan pendidikan sebanyak-banyaknya melalui perpustakaan keliling.
”Semakin banyak membaca, semakin banyak tahu. Supaya kita jangan ketinggalan dan tidak dibodoh-bodohi orang lain,” ujar Jailani.
Namun di sisi lain, kegalauan dan ketidakpastian tengah meliputi mereka. Pasalnya keenam petugas perpustakaan keliling itu ternyata masih menjadi tenaga sukarela dan belum diangkat menjadi pegawai tetap.
Bisa dibayangkan, berapa honor yang mereka peroleh sebagai tenaga sukarela, tidak lebih tinggi dari Upah Minimun Regional (UMR). Namun, mereka tidak mau menyebutkan angkanya. Kondisi yang demikian membuat Jailani harus membuka usaha lain di luar jam kerjanya untuk mencari tambahan untuk kebutuhan keluarga.
Totalitas dan keloyalan yang ditunjukan Pak Usman, misalnya, dengan lama waktu bekerja sembilan tahun, ternyata juga dianggap belum cukup menjadi poin untuk menjadi pegawai tetap. Seminggu yang lalu, Jailani menceritakan bahwa mereka telah menyampaikan keingian mereka kepada Komisi E bagian pendidikan, ketika mereka dikunjungi.
Dalam kesempatan itu, mereka meminta tolang supaya dipertimbangkan untuk mengangkat mereka menjadi pegawai tetap. Jawaban yang diperoleh dari Komisi E pada saat itu adalah mereka berjanji akan mengusahakan upaya tersebut.
Lalu kapan kepastian itu akan datang? Seorang staf di kantor perpustakaan yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan masalah perekrutan pegawai bukan wewenang mereka untuk menentukan, melainkan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dengan dijembatani Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda).
Ia mengakui dengan segala keterbatasan jumlah pegawai yang dimiliki perpustakaan kotamadya itu, tenaga sukarela seperti Pak Usman dan rekan-rekannya itulah yang diandalkan untuk menjalankan tugas khususnya di bagian perpustakaan keliling. Namun, persolan pengangkatan pegawai adalah mutlak urusan BKD.
”Kami nggak muluk-muluk Bang. Kalau boleh kami diangkat jadi pegawai tetap, itu saja,” ujar Pak Usman dan Jailani penuh harap.(SH/rafael sebayang)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003