Sabtu, 20 September 2003

O L A H R A G A

No.  4514

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Uang & Efek
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Promarketing
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Sergey Karjakin, Grandmaster Termuda dalam Sejarah
 

PECATUR legendaris Bobby Fischer dari Amerika Serikat memperoleh gelar grandmaster pada usia 15 tahun enam bulan plus satu hari, sedangkan pecatur wanita paling hebat di dunia, Judit Polgar dari Hongaria mendapatkannya pada usia 15 tahun empat bulan dan 28 hari.
Boleh jadi tak kalah mencengangkan, bahwa dewasa ini ada seorang bocah berusia 13 tahun dari Ukraina memperoleh gelar tertinggi dalam dunia catur itu pada usia 12 tahun tujuh bulan. Entahlah, apakah masih ada manusia di muka bumi yang kelak akan memecahkan rekor tersebut, siapa tahu ada yang meraihnya di bawah usia 10 tahun.
Karjakin menciptakan sejarah catur itu, yakni memenuhi norma GM yang terakhir dalam turnamen internasional yang berlangsung di kota Sudak di Semenanjung Krimea, Ukraina tanggal 2 hingga 12 Agustus tahun lalu. Dewasa ini memang ialah grandmaster paling muda di seluruh dunia.
Bocah kelahiran 12 Januari 1990 ini kini mempunyai Elo-rating 2523. Bandingkan misalnya Elo-rating pecatur nomor satu Indonesia Utut Adianto yang kini 2573 (pernah di atas 2600), sementara Kasparov kini menempati rangking pertama dengan Elo di atas 2800.
Bocah ini mencatat kemajuan pesat dalam permainan adu otak ini di bawah bimbingan Alexander Alexikov dan juara Uni Soviet 1971, GM Vladimir Savon.
Karyakin tercatat pula sebagai juara dunia catur di bawah 12 tahun, dan berkali-kali menjuarai turnamen catur untuk anak-anak. Dan tak kalah menakjubkan, selama tahun 2002 saja dua kali ia ambil bagian dalam turnamen besar yang dinamakan sebagai Grand Prix FIDE, masing-masing di Dubai dan Moskow.
Sedangkan pada bulan Januari 2002, ia dipercaya sebagai salah satu sekondan Ruslan Ponomariov sewaktu berhadapan dengan Vasyl Ivanchuk dalam kejuaraan dunia.
Ponomariov sendiri hingga kini jadijuara catur versi FIDE, yang harus dipertahankannya dalam turnamen kejuaraan dunia versi terbarubulan Oktober mendatang.
Pukul Kosteniuk 4-2
Belum afdol rasanya hanya mengetahui bahwa anak ajaib dari Ukraina, negara pecahan Uni Soviet ini, menjadi pencetak rekor usia muda saat meraih gelar grandmaster. Tanggal 1 hingga 6 Februari 1993, ia dipertemukan dalam dwitarung dengan runner-up juara dunia wanita, si cantik Alexandra Kosteiuk dari Rusia yang saat itu berusia 18 tahun.
Pecatur wanita paling populer itu, yang pernah mengalahkan anggota-anggota Dream Team Indonesia Megaranto Susanto, Andrean Susilo dan Tirta Chandra secara berturut-turut ternyata hamapir tak berkutik menghadapi Karjakin.
Dalam enam partai, Kosteniuk hanya mampu bertahan remis sebanyak empat kali, dan kalah dua kali tanpa pernah menang. Padahal usia mereka saat pertarungan itu berbeda lima tahun, berarti Kosteniuk sudah jauh lebih banyak makan asam garam catur dalam berbagai turnamen besar.
Karakteristik permainan catur Kosteniuk sendiri plus kepribadian serta kecantikannya membuat ia lebih favorit dari pecatur nomor wahid sejagat Garry Kasparov menurut hasil jajak pendapat oleh sebuah lembaga di Jerman belum lama ini.
Melihat data-data itu, anak ajaib dari Ukraina ini boleh jadi kelas bisa menandingi atau bahkan melampaui kebesaran pecatur seperti Bobby Fischer atau Garry Kasparov sekali pun. Sejarah tentu akan mencatatnya.
Berikut satu partai cukup panjang antara Karjakin dengan Kosteniuk yang dimainkan di Swiss, 3 Februai 2003.
Catatan langkah: langkah 17 … Rh5 perlu atas langkah ancaman terselubung 18. e6 f6 19. f5 atau 18 … Bxe6 19.Bg7.
Hingga langkah 23 posisi masih berimbang, keduanya bermain sangat cermat. Mulai langkah 24 hingga 26 berlangsung langkah-langkah penentuan yang tajam, di mana Karjakin menempatkan perwira-perwira ringannya pada posisi yang optimal. Meningkat ke langkah 27. Nf3 Nf5+ 28 Ke2 Bh4 mulai terasa posisi Karjakin lebih nyaman.
Langkah-langkah 29 hingga 32 berlangsung keras, dan sewaktu meningkat ke langkah 57 Kosteniuk mengalami krisis waktu berpikir menyebabkan ia hanya sekadar melangkah saja seperti h7 yang mengundang tanya.
Saat itu ia hanya punya sisa waktu berpikir 5 menit. Maka untuk selanjutnya hanya masalah teknis belaka, dan tanpa berbuat kesalahan, apalagi blunder dapat diselesaikan oleh Karjakin untuk kemenangannya pada langkah 73.
(vic)
 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2003