|
Kaum Tionghoa
Tangerang Rindu Suasana Imlek Tempo Dulu
TANGERANG – Tahun Baru Imlek 2554 tinggal menunggu waktu, namun
nuansa berbeda menyambut datangnya tahun ”Kambing Air” ini mulai
bisa dirasakan oleh warga kabupaten maupun kota Tangerang.
Warna-warna merah yang mencerminkan sebuah kegembiraan dan
kemeriahan tahun baru khas masyarakat keturunan Tionghoa pun mulai
marak menghiasi beberapa tempat di Tangerang.
Seperti di kawasan Pecinan, Jalan Kisamaun (Pasar Lama), Kota
Tangerang, dalam beberapa hari terakhir ini, banyak pedagang mulai
mengadu nasib di sana. Mereka mulai ”membanjiri” kawasan ini dengan
berbagai atribut khas tahun baru Imlek.
Dagangan mereka mulai dari yang seharga nilai ribuan rupiah seperti
Ang-pao dan kartu ucapan selamat, hingga yang puluhan atau ratusan
ribu rupiah, seperti lampion gantung berwarna merah. Buah-buahan dan
bunga segar, serta kue-kue keranjang, tak ketinggalan ikut digelar
di sana. Semua itu ditawarkan untuk memeriahkan ”pesta” tahun baru.
Nuansa ini tak cuma ada di kelas-kelas eceran seperti Pasar Lama,
Jalan Kisamaun. Sejumlah pusat perbelanjaan berkelas seperti mal dan
plaza yang ada di Tangerang pun tak mau kalah.
Mereka seperti berebut menggaet konsumennya sambil memanfaatkan
momen khusus ini. Berbagai spanduk berukuran cukup besar dengan
tajuk ”Gong Xi Fat Choi! Selamat Tahun Baru Imlek 2554!” pun
dipasang di mana-mana.
Atau ada pula yang memberikan diskon besar-besaran dengan dalih
menyambut datangnya ”tahun kambing” ini. Intinya perayaan kali ini
memang agak berbeda dengan perayaan-perayaan tahun sebelumnya.
Mungkin karena di tahun ini, pemerintah mulai memberlakukan
tanggalan merah alias libur resmi secara nasional.
Hilang Keakraban
”Kebebasan” yang didapatkan masyarakat keturunan Tionghoa untuk
menikmati meriahnya pesta tahun baru Cina sekarang diperoleh setelah
dihapuskan Inpres No 14 tahun 1967 tentang larangan untuk
melaksanakan berbagai adat istiadat yang ”berbau” Negeri Tirai
Bambu.
Tak terkecuali kaum Tionghoa di Tangerang yang merasakan kebebasan
yang dirasakan saat ini merupakan sebuah anugerah. Dengan adanya
kebebasan itu, yang secara fakultatif diberikan semasa Presiden KH
Abdurrahman Wahid dan kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati,
mereka dapat lebih leluasa mengembangkan agama dan tradisi yang
dibawa dari tanah leluhur itu.
Namun pada sisi lain, mereka merasakan ada suasana keakraban yang
hilang sejak Imlek diizinkan dirayakan secara bebas dan terbuka.
Paling tidak itu yang dirasakan Leo, keturunan Tionghoa kelahiran
Tangerang.
”Dulu saat Imlek belum dilarang, seluruh masyarakat Tangerang
merayakannya. Perayaan itu tak hanya dinikmati oleh masyarakat etnis
Tionghoa saja, tapi juga acara itu dimeriahkan oleh etnis-etnis
lainnya,” ujarnya.
Dia mencatat setiap acara Tahun Baru dan Cap Go Meh (15 hari setelah
Tahun Baru –red), acaranya selalu diisi dengan berbagai atraksi
kesenian, seperti Barongsai, Liong, Gambang Kromong, Cokek, sampai
Tanjidor.
”Yang paling berkesan justru kesenian Tanjidor yang keliling ke
rumah-rumah penduduk,” cerita Leo, yang tinggal di seputar Jalan
Daan Mogot, Tangerang.
Pria yang pernah mengalami tiga zaman (Belanda, Jepang dan
Kemerdekaan –red) ini merasakan saat-saat itu kedamaian menyambut
meriahnya tahun baru betul-betul terasa. ”Tidak ada yang
gontok-gontokan seperti sekarang. Semuanya berjalan dengan damai.
Semua etnis berbaur memeriahkan tahun baru. Begitu pula saat Lebaran
atau Natalan. Pokoknya saat itu rasa kebersamaan antara golongan
Tionghoa dan golongan lain begitu erat,” ujarnya.
Tradisi yang Hilang
Selain hilangnya rasa kebersamaan antaretnis tersebut, banyak pula
berbagai tradisi khas Cina Benteng (sebutan orang keturunan Cina di
Tangerang –red) yang mulai hilang ditelan sang waktu.
Menurut penuturan Oey Cin Eng, salah seorang sesepuh masyarakat
Tionghoa di kawasan Kisamaun, ada banyak tradisi khas perayaan Tahun
Baru Imlek di Tangerang yang kini tak tersentuh lagi.
Sebagai contoh hilangnya budaya Kwee Swee (buang sial –red). Acara
ini biasanya dilakukan oleh golongan muda-mudi Tionghoa di era tahun
1940 sampai dengan tahun 1965.
Para pelakon tradisi ini biasanya berganti dandanan seperti lawan
jenisnya. Laki-laki memakai pakaian wanita dan begitu pula
sebaliknya.
Kemudian secara beramai-ramai mereka berjalan beriringan sambil
memegang tambang untuk mengelilingi daerah mereka masing-masing.
Acara ini biasanya dilakukan pada malam pergantian tahun.
”Menurut kepercayaan masyarakat Benteng (Tangerang –red) kala itu,
jika mereka melakukan acara seperti itu mereka akan terhindar dari
segala ‘kesialan’ pada tahun berikutnya. Bahkan bagi mereka yang
berat jodoh, dengan melakukan hal seperti itu akan mendapatkan
jodoh,” ujar pria yang biasa disebut Engkong (kakek –red) di
lingkungan kelenteng Khongcu Bio, Kisamaun, ini.
Ternyata tak cuma tradisi Kwee Swee saja yang hilang. Engkong yang
ikut menyusun buku sejarah Kelenteng Boen Tek Bio juga mencatat
hilangnya budaya ”pasar malam” di kala Sin Cia (sebutan lain Tahun
Baru Imlek –red).
”Sejak malam tahun baru hingga perayaan Cap Go Meh, masyarakat
Tangerang biasanya menggelar acara pasar malam. Saat itulah para
pedagang kecil yang bukan berasal dari golongan Tionghoa bisa meraup
sedikit rezeki di sana. Intinya rasa kebersamaan itu muncul di
antara masyarakat Tangerang. Saya selalu merindukan masa-masa
seperti itu,” papar Cin Eng lebih jauh.
Kalau mengikuti pandangan kaum tua di Tangerang itu, sepertinya
perayaan Tahun Baru Imlek tempo doeloe jauh lebih berkesan
dibandingkan sekarang. Mungkin perasaan yang muncul tersebut sekadar
romantisme.
Artinya, ketika ditekan orang akan merasa lebih dekat dan senasib,
selain itu masyarakat etnis lain juga bersimpati. Namun ketika
kebebasan itu diberikan, semua memilih jalannya sendiri.
Dalam kaitan ini, Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI),
Edi Limbong, yang dihubungi SH mengatakan semua pihak hendaknya
harus memahami bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari libur keagamaan
bagi pemeluk agama Konghuchu.
”Jangan sampai ini dianggap sebagai hari kebudayaan etnis Tionghoa,
sebab kalau begitu akan menjadi masalah. Etnis Tionghoa hanya
sebagian kecil dari banyak etnis di Indonesia sehingga tidak perlu
diistimewakan” ujar Edi. Dia menilai bila pemerintah memberikan
pengakuan dan hari libur, hendaknya itu disambut dengan penuh syukur
dan terima kasih, tanpa harus dengan perayaan dan pesta
besar-besaran.
Namun memang tak semua orang menyambut datangnya sang tahun kambing
dengan segala kemeriahan. Khususnya tempat-tempat peribadatan
seperti di vihara Boen San Bio (Nimmala) atau Boen Tak Bio
(Padamuttara), kegiatan tahun baru seperti ini lebih banyak diisi
oleh acara keagamaan.
”Tidak ada acara khusus yang dipersiapkan dalam menyambut datangnya
tahun baru ini. Paling-paling kami menggelar upacara persembahyangan
sebagai ucapan syukur atas datangnya tahun baru. Selebihnya hanya
dimeriahkan tarian Barongsai atau Liong pada malam pergantian
tahun,” ujar Ketua Vihara Boen San Bio, Jenny Wijaya, Selasa (29/1)
lalu.
Mungkin ini yang paling penting, rasa keagamaan itu tidak hilang.
(SH/wahyu wibisana)
|
|