Jum'at , 31 Januari 2003

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4324

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Kaum Tionghoa Tangerang Rindu Suasana Imlek Tempo Dulu   

TANGERANG – Tahun Baru Imlek 2554 tinggal menunggu waktu, namun nuansa berbeda menyambut datangnya tahun ”Kambing Air” ini mulai bisa dirasakan oleh warga kabupaten maupun kota Tangerang.
Warna-warna merah yang mencerminkan sebuah kegembiraan dan kemeriahan tahun baru khas masyarakat keturunan Tionghoa pun mulai marak menghiasi beberapa tempat di Tangerang.
Seperti di kawasan Pecinan, Jalan Kisamaun (Pasar Lama), Kota Tangerang, dalam beberapa hari terakhir ini, banyak pedagang mulai mengadu nasib di sana. Mereka mulai ”membanjiri” kawasan ini dengan berbagai atribut khas tahun baru Imlek.
Dagangan mereka mulai dari yang seharga nilai ribuan rupiah seperti Ang-pao dan kartu ucapan selamat, hingga yang puluhan atau ratusan ribu rupiah, seperti lampion gantung berwarna merah. Buah-buahan dan bunga segar, serta kue-kue keranjang, tak ketinggalan ikut digelar di sana. Semua itu ditawarkan untuk memeriahkan ”pesta” tahun baru.
Nuansa ini tak cuma ada di kelas-kelas eceran seperti Pasar Lama, Jalan Kisamaun. Sejumlah pusat perbelanjaan berkelas seperti mal dan plaza yang ada di Tangerang pun tak mau kalah.
Mereka seperti berebut menggaet konsumennya sambil memanfaatkan momen khusus ini. Berbagai spanduk berukuran cukup besar dengan tajuk ”Gong Xi Fat Choi! Selamat Tahun Baru Imlek 2554!” pun dipasang di mana-mana.
Atau ada pula yang memberikan diskon besar-besaran dengan dalih menyambut datangnya ”tahun kambing” ini. Intinya perayaan kali ini memang agak berbeda dengan perayaan-perayaan tahun sebelumnya. Mungkin karena di tahun ini, pemerintah mulai memberlakukan tanggalan merah alias libur resmi secara nasional.

Hilang Keakraban
”Kebebasan” yang didapatkan masyarakat keturunan Tionghoa untuk menikmati meriahnya pesta tahun baru Cina sekarang diperoleh setelah dihapuskan Inpres No 14 tahun 1967 tentang larangan untuk melaksanakan berbagai adat istiadat yang ”berbau” Negeri Tirai Bambu.
Tak terkecuali kaum Tionghoa di Tangerang yang merasakan kebebasan yang dirasakan saat ini merupakan sebuah anugerah. Dengan adanya kebebasan itu, yang secara fakultatif diberikan semasa Presiden KH Abdurrahman Wahid dan kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati, mereka dapat lebih leluasa mengembangkan agama dan tradisi yang dibawa dari tanah leluhur itu.
Namun pada sisi lain, mereka merasakan ada suasana keakraban yang hilang sejak Imlek diizinkan dirayakan secara bebas dan terbuka. Paling tidak itu yang dirasakan Leo, keturunan Tionghoa kelahiran Tangerang.
”Dulu saat Imlek belum dilarang, seluruh masyarakat Tangerang merayakannya. Perayaan itu tak hanya dinikmati oleh masyarakat etnis Tionghoa saja, tapi juga acara itu dimeriahkan oleh etnis-etnis lainnya,” ujarnya.
Dia mencatat setiap acara Tahun Baru dan Cap Go Meh (15 hari setelah Tahun Baru –red), acaranya selalu diisi dengan berbagai atraksi kesenian, seperti Barongsai, Liong, Gambang Kromong, Cokek, sampai Tanjidor.
”Yang paling berkesan justru kesenian Tanjidor yang keliling ke rumah-rumah penduduk,” cerita Leo, yang tinggal di seputar Jalan Daan Mogot, Tangerang.
Pria yang pernah mengalami tiga zaman (Belanda, Jepang dan Kemerdekaan –red) ini merasakan saat-saat itu kedamaian menyambut meriahnya tahun baru betul-betul terasa. ”Tidak ada yang gontok-gontokan seperti sekarang. Semuanya berjalan dengan damai. Semua etnis berbaur memeriahkan tahun baru. Begitu pula saat Lebaran atau Natalan. Pokoknya saat itu rasa kebersamaan antara golongan Tionghoa dan golongan lain begitu erat,” ujarnya.

Tradisi yang Hilang
Selain hilangnya rasa kebersamaan antaretnis tersebut, banyak pula berbagai tradisi khas Cina Benteng (sebutan orang keturunan Cina di Tangerang –red) yang mulai hilang ditelan sang waktu.
Menurut penuturan Oey Cin Eng, salah seorang sesepuh masyarakat Tionghoa di kawasan Kisamaun, ada banyak tradisi khas perayaan Tahun Baru Imlek di Tangerang yang kini tak tersentuh lagi.
Sebagai contoh hilangnya budaya Kwee Swee (buang sial –red). Acara ini biasanya dilakukan oleh golongan muda-mudi Tionghoa di era tahun 1940 sampai dengan tahun 1965.
Para pelakon tradisi ini biasanya berganti dandanan seperti lawan jenisnya. Laki-laki memakai pakaian wanita dan begitu pula sebaliknya.
Kemudian secara beramai-ramai mereka berjalan beriringan sambil memegang tambang untuk mengelilingi daerah mereka masing-masing. Acara ini biasanya dilakukan pada malam pergantian tahun.
”Menurut kepercayaan masyarakat Benteng (Tangerang –red) kala itu, jika mereka melakukan acara seperti itu mereka akan terhindar dari segala ‘kesialan’ pada tahun berikutnya. Bahkan bagi mereka yang berat jodoh, dengan melakukan hal seperti itu akan mendapatkan jodoh,” ujar pria yang biasa disebut Engkong (kakek –red) di lingkungan kelenteng Khongcu Bio, Kisamaun, ini.
Ternyata tak cuma tradisi Kwee Swee saja yang hilang. Engkong yang ikut menyusun buku sejarah Kelenteng Boen Tek Bio juga mencatat hilangnya budaya ”pasar malam” di kala Sin Cia (sebutan lain Tahun Baru Imlek –red).
”Sejak malam tahun baru hingga perayaan Cap Go Meh, masyarakat Tangerang biasanya menggelar acara pasar malam. Saat itulah para pedagang kecil yang bukan berasal dari golongan Tionghoa bisa meraup sedikit rezeki di sana. Intinya rasa kebersamaan itu muncul di antara masyarakat Tangerang. Saya selalu merindukan masa-masa seperti itu,” papar Cin Eng lebih jauh.
Kalau mengikuti pandangan kaum tua di Tangerang itu, sepertinya perayaan Tahun Baru Imlek tempo doeloe jauh lebih berkesan dibandingkan sekarang. Mungkin perasaan yang muncul tersebut sekadar romantisme.
Artinya, ketika ditekan orang akan merasa lebih dekat dan senasib, selain itu masyarakat etnis lain juga bersimpati. Namun ketika kebebasan itu diberikan, semua memilih jalannya sendiri.
Dalam kaitan ini, Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Edi Limbong, yang dihubungi SH mengatakan semua pihak hendaknya harus memahami bahwa Tahun Baru Imlek adalah hari libur keagamaan bagi pemeluk agama Konghuchu.
”Jangan sampai ini dianggap sebagai hari kebudayaan etnis Tionghoa, sebab kalau begitu akan menjadi masalah. Etnis Tionghoa hanya sebagian kecil dari banyak etnis di Indonesia sehingga tidak perlu diistimewakan” ujar Edi. Dia menilai bila pemerintah memberikan pengakuan dan hari libur, hendaknya itu disambut dengan penuh syukur dan terima kasih, tanpa harus dengan perayaan dan pesta besar-besaran.
Namun memang tak semua orang menyambut datangnya sang tahun kambing dengan segala kemeriahan. Khususnya tempat-tempat peribadatan seperti di vihara Boen San Bio (Nimmala) atau Boen Tak Bio (Padamuttara), kegiatan tahun baru seperti ini lebih banyak diisi oleh acara keagamaan.
”Tidak ada acara khusus yang dipersiapkan dalam menyambut datangnya tahun baru ini. Paling-paling kami menggelar upacara persembahyangan sebagai ucapan syukur atas datangnya tahun baru. Selebihnya hanya dimeriahkan tarian Barongsai atau Liong pada malam pergantian tahun,” ujar Ketua Vihara Boen San Bio, Jenny Wijaya, Selasa (29/1) lalu.
Mungkin ini yang paling penting, rasa keagamaan itu tidak hilang. (SH/wahyu wibisana)
 

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002