|
Leuweung Lebak
Siliwangi Digusur
Seniman Bandung Berontak
Oleh MATDON
Di Bandung, sejak beberapa pekan terakhir dihebohkan dengan rencana
penggusuran kawasan Lebak Siliwangi sebagai bagian dari kawasan
Babakan Siliwangi Bandung, yang terletak di Jl. Babakan Siliwangi,
sebuah jalan tembusan Jl. Tamansari melewati Jl.Ganesa Bandung.
Kawasan Babakan Siliwangi memang bukan situs resmi yang dapat
dikunjungi oleh sembarang orang. Namun, bagi sebagian besar para
karuhun Sunda, kawasan ini menyimpan sejarah panjang bagi
kelangsungan hidup budaya, ekologi, seni dan senimannya itu sendiri.
Penggusuran ini akan dilakukan oleh pengembang PT Esa Gemilang Indah
(EGI), yang berniat ”memanjakan” impian ke arah komersial, dengan
dalih bahwa di kawasan tersebut akan dibangun kompleks Pusat Budaya
Jawa Barat yang bernuansa seni dan budaya serta (ini dia)
menghasilkan fulus yang banyak.
Tentu saja niat itu patut ”diwaspadai” sebagai sebuah iming-iming
bahwa kawasan ini akan dijadikan kawasan wisata, cottage, penginapan
mahasiswa dan pusat seni Sunda, biasanya dilakukan oleh kelompok
tertentu untuk meredam amarah warga. Ini pula yang membuat para
seniman Bandung sepakat mengadakan pertemuan untuk kemudian
membentuk sebuah wadah perlawanan pada EGI. Maka, ditetapkanlah nama
”SOS Lebak Siliwangi” yang diartikan sebagai ”Selamatkan Jiwa Lebak
Siliwangi!!”.
Pembentukan wadah ini bukan untuk menentang program serta niat baik
pengembang atau pemerintah, tetapi sebagai sebuah kepedulian sosial
budaya, serta wujud ketakutan akan berubahnya kawasan Lebak
Siliwangi menjadi hutan beton yang angkuh, padahal sebelumnya Lebak
Siliwangi dikenal sebagai hutan kota yang asri, segar, dingin dan
akrab. Ketakutan ini tentu saja sangat mendasar, sebab bagi kelompok
pengusaha dalam hal ini pengembang, janji manis untuk meraih
keuntungan sudah merupakan hal yang biasa, bahkan boleh jadi janji
manis merupakan Sunah Muakkad yang harus dilakukan pengusaha. Inilah
salah satu yang mendasari ketersinggungan para seniman Bandung.
Mata Air Prabu Siliwangi
Kawasan Babakan Siliwangi sebenarnya terbentang sejak Kebun
Binatang, Sabuga ITB, sampai lahan yang selama ini dipakai Rumah
Makan Babakan Siliwangi. Luas kawasan ini kira-kira belasan hektar,
lahan yang tersisa dari lahan yang dulu dibeli oleh dana APBN ini
adalah lahan yang berbentuk Tapal Kuda yang dibatasi oleh Jl.
Tamansari dan Sabuga ITB, seluas 3,8 ha, lahan inilah yang disebut
Lebak Siliwangi.
Kawasan Babakan Siliwangi merupakan bagian dari sejarah kota
Bandung, sebuah kawasan hijau yang menyimpan banyak kenangan dan
kesuksesan banyak orang., selain juga merupakan daerah resapan air,
bahkan konon menurut para orangtua, di sana terdapat empat mata air
yang disebut mata air Prabu Siliwangi. Sejak berdirinya Sabuga yang
konon waktu berdiri diperuntukkan bagi seniman tetapi nyatanya
menjadi sebuah gedung angkuh yang sulit disentuh para seniman, serta
salah satu sumber mata air dijadikan lahan bisnis air mineral
”ganesa”, maka fungsi resapan air menjadi berkurang.
Adalah para seniman seperti Wawan S Husen, Deden Sambas, Ahda Imran,
Tisna Sanjaya, Heru Hikayat, Imam Abda, Bambang Subarnas, dan
lain-lain, mencoba menengok kembali fungsi Lebak Siliwangi ini
sebagai bahan kajian dalam rangka gerakan pemberontakan seniman
Bandung terhadap pengembang EGI. Banyak sudah akhirnya data-data
yang memperkuat bahwa kawasan Lebak Siliwangi harus tetap menjadi
hutan kota, kepentingan budaya, ekologi dan kemaslahatan warga kota
Bandung.
Dari mereka saya mendapatkan kisah kecil yang menarik, sejak tahun
1950-an, kawasan Babakan Siliwangi masih berbentuk hutan geledegan
(belantara), air sungai Barani yang mengalir menuju sungai
Cikapundung selalu menarik perhatian, pohon-pohon yang rimbun, angin
yang semilir, cicit burung dan bulan purnama menjadi bagian integral
dari pemandangan yang ada, disanalah para seniman dan warga setempat
niis (sekedar cari angin) untuk mendapatkan kesegaran alamiah,
begitulah bertahun-tahun lamanya, tempat ini menjadi sakral bagi
mereka yang ingin mencari jodoh, mendapat ilham, menulis, mengarang,
melukis, atau apa saja, ular-ular sanca yang ada di sana tidak
pernah mengganggu warga setempat, hingga kini ular-ular tersebut
masih tetap hidup di rerimbunan pohon.
Seorang pelukis terkenal, Thoni R. Yoesoef bahkan kemudian
memanfaatkan keberadaan Lebak Siliwangi, ia mendirikan Sanggar Olah
Seni (SOS) Babakan Siliwangi, berdiri tahun 1982, bersamaan dengan
berdirinya Rumah Makan Babakan Siliwangi, diresmikan oleh seniman
Anang Sumarna yang waktu itu menjabat sebagai kepala Kanwil
Depparpostel Jawa Barat. Thoni R Yoesosef akhirnya melahirkan
pelukis ternama seperti Tisna Saleh, Deden Sambas, Suratman,
Harkardi, Anang Ruhiat, Fredi Sofyan, Dodo Abdullah, Rosid, dan Edi
Turmudi, seorang sastrawan Sunda yang menjadi anggota DPR setelah
”mesantren” di sana.
Lepas dari ada atau tidak ada SOS Babakan Siliwangi, kawasan ini
tetaplah hutan kota yang patut dipertahankan keaslian dan
keasriannya. Boleh saja Abrianto Effendi Direktur Teknis PT EGI
mengatakan bahwa pembangunan kawasan Lebak Siliwangi didesain pusat
budaya yang diarahkan menjadi ikon pariwisata yang kuat dengan
kelengkapan dari sisi seni-budaya-komersial, misalnya pusat seni dan
kegiatan pemuda, amphiteater, rumah makan, kafe, dan didukung oleh
tersedianya graha, yaitu fasilitas hunian yang ditujukan bagi
masyarakat banyak dengan fasilitas selengkap hotel, dengan tetap
memperhatikan lingkungan.
Dalih dan iming-iming itu, tentu saja bukan harga mati yang patut
dipercayai begitu saja, karena kalau tiba-tiba kita angkat tangan
dan menyatakan setuju, maka ujung-ujungnya tempat ini tetap saja
menjadi sebuah pusat keuntungan pengembang dan pengusaha hiburan,
dan sebagian besar warga Bandung mengetahui dengan jelas, bahwa
akhir-akhir ini mall-mall dan pertokoan yang ada di kota Bandung
ditangani oleh pengembang PT Istana Group, yang di dalamnya terdapat
PT EGI, PT APP, dan lain-lain. Proyek yang pernah dan sedang digarap
mereka antara lain ITC Kebon Kelapa (simpang Jl. Mohammad Toha - Jl.
Pungkur) , Pembangunan Pasar Baru (Jl. Otista), Istana Plaza (Jl.
Pasirkaliki-Pajajaran), Bandung Electro Centre (Jl. Purnawarman) dan
lain-lain? Semua pembangunan tersebut selalu bermasalah, selain
membuat lingkungan tidak ramah juga menambah daftar dosa kemacetan
kota Bandung.
Kejadian-kejadian tersebut harus menjadi kewaspadaan bagi warga kota
Bandung, saya tidak bisa membayangkan betapa hutan kota Bandung
Lebak Siliwangi, menjadi hutan beton yang kokoh dan angkuh, di mana
lagi Prabu Siliwangi akan menangis?, di mana lagi air akan
tertampung?.
* Penulis, seniman
|
|