Jum'at, 8 November 2002

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4259

 
Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Hotel & Resor
Asuransi
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

Dana Stimulus Diperlukan untuk Pemulihan Bali
 

Jakarta, Sinar Harapan
Pemulihan ekonomi pascatragedi Bali membutuhkan dana stimulus yang cukup besar. Untuk membangun kepercayaan dunia kepada Indonesia pascatragedi Bali memang membutuhkan biaya mahal. Hanya saja, penggunaan dana stimulus harus sesuai tujuan agar bisa mencapai sasaran
Demikian rangkuman pendapat Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Nopirin dan ekonom senior CSIS, Pande Radja Silalahi serta ekonom Standar Chartered Bank, Fauzi Ichsan, yang dihubungi SH, secara terpisah Kamis (7/11) dan Jumat (8/11) pagi. Mereka diminta pendapatnya tentang hasil Sidang Kabinet seputar rencana pemerintah dalam memulihkan ekonomi pascatragedi Bali.
”Dana stimulus melalui ekspansi fiskal ini memang sangat diperlukan untuk pemulihan Bali. Amerika juga melakukan itu setelah Tregedi WTC dalam bentuk pengeluaran pemerintah sampai US$ 40 miliar. Memang untuk membangun kembali kepercayaan itu mahal,” ujar Nopirin.
Menurut Nopirin, stimulus itu ibarat obat untuk menyembuhkan kondisi ekonomi yang sakit. Maka ia menyarankan dana stimulus terutama diberikan kepada sektor yang paling terkena dampak tragedi Bali, yaitu sektor pariwisata.
”Hal ini berkaitan dengan hotel, restoran, dan transportasi. Tidak harus berupa injeksi dana, tapi bisa berupa pembebasan pajak seperti pengurangan Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan lain-lain. Selain fisik untuk bangunan yang rusak, juga non-fisik seperti keamanan untuk membangun citra serta kampanye internasional,” tambah Nopirin.
Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM itu juga memaklumi tindakan pemerintah menambah jumlah utang. Konsekuensinya angka defisit anggaran tahun 2003 naik, dari target awal sebesar 1,2 persen menjadi sekitar 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
”Tidak ada pilihan lain karena kondisi, daripada tidak dipulihkan. Kalau sakit kan tidak bisa mencicil utang yang lama juga. Diharapkan ekspansi fiskal itu tidak hanya dari utang tapi juga diharapkan dari hibah. Yang penting utility-nya lebih besar dari modalnya,” tandas Nopirin.

Senada dengan Noprirn, Pande Radja menilai pemerintah sudah seharusnya memberikan stimulus untuk mereka yang secara langsung kehilangan pekerjaan, sebagai akibat targerdi Bali. Pemerintah bisa memberikan suntikan dananya dari APBN, untuk menciptakan lapangan kerja baru yang bersifat sementara.
Pande menilai, upaya pemerintah untuk mengarahkan kegiatan di pulau Bali lebih cukup baik untuk tetap menghidupkan sektor pariwisata di sana. Selain itu, upaya perbaikan sarana atau infrastruktur di Bali, untuk orang-orang yang terkena musibah secara langsung.
Namun Pende mengingatkan, pemberian stimulus ini haruslah tetap mempertimbangkan efektifitas dari stimulus. Menurut dia, pemerintah belum perlu memberikan stimulus dengan cara menyuntikkan likuiditasnya ke pasar, seperti halnya yang dilakukan di Amerika.
Bali sebelum tragedi, kata Pande, tidak pernah kekurangan likuiditas. Menurut dia setidaknya Rp 12,5 triliun dana yang ada di Bali. Namun, yang tersalurkan dalam bentuk kredit tidak lebih dari Rp 5,6 triliun.
Sementara itu, ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan berpendapat dana sebesar Rp 5,9 triliun yang dikemukakan oleh Pemerintah untuk pemulihan pasca Bali sebenarnya tidak mencukupi dan diperlukan dana tambahan dari donor. Hanya saja kemampuan donor untuk meminjamkan dana bagi Indonesia juga makin terbatas.
Fauzi menilai kemampuan Pemerintah dibatasi oleh kewajiban membayar utang dan kewajiban lainnya. ”Idealnya orang Indonesia yang memarkir dananya di luar negeri seperti di Singapura, Hong Kong dan lain-lain sebaiknya menarik dananya ke Indonesia. Tidak mesti investasi tetapi mereka bisa saja cuma menyimpan dananya di bank-bank di Indonesia,” ujarnya.

Enam Bulan Pertama
Sebelumnya, dalam jumpa pers usai hasil Sidang Paripurna Kabinet di Jakarta, Kamis (7/11) sore, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro Jakti menjelaskan fokus kerja pemerintah dalam enam bulan pertama untuk mengatasi dampak tragedi Bali. Untuk itu, pemerintah akan menyediakan dana stimulus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
”Dana stimulus dari APBN jumlahnya tidak bisa dramatis karena kita harus berpegang kepada GBHN dan Propenas bahwa defisit APBN harus diturunkan,” tukas Dorodjatun
Selain itu, lanjutnya, pemerintah akan meminta Bank Indonesia (BI) untuk melakukan ekspansi moneter. Hal itu dimaksudkan bagi tercipta kesempatan kerja dan dapat mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi sebesar empat persen.
”Kita akan bekerja keras dalam dua kuartal ini, sehingga pertumbuhan empat persen, bukan lima persen seperti yang ditargetkan, tapi jangan sampai turun di bawah 3,5 persen,” imbuh Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini.
Karena itu, menurutnya, pemerintah memperkirakan terjadi penurunan target pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2003 sebesar satu persen. Penurunan dari target awal sebesar 5 persen itu terjadi akibat peledakan bom di Bali.
Dalam kesempatan yang sama Menko Kesra, Jusuf Kalla memperkirakan Indonesia membutuhkan waktu dua tahun untuk mengembalikan kondisi pariwisata seperti tahun 2001. Ia memperkirakan terjadi penurunan wisatawan asing yang mencapai satu atau dua juta orang.
Disamping berpengaruh terhadap pengangguran dan kemiskinan di Bali, menurut Kalla, juga akan berpengaruh kepada daerah wisata lain di Indonesia karena selama ini Bali menjadi pusat dalam paket kunjungan wisata yang ada. Selain itu, 75 persen kerajinan tangan dan suvenir yang dijual di Bali diproduksi di Jateng dan Jatim.
Maka pemerintah akan berusaha mengurangi dampak sosial-ekonomi serta pariwisata. Salah satunya dengan pemberian dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) berupa beras murah, bea siswa bagi anak-anak penganggur dan pelayanan kesehatan. (ady/ega/sam/rvs)

 

 

 

 

Copyright © Sinar Harapan 2002