|
Melepas Bhante Ashin Jinarakkhita dengan Kayu
BANDAR LAMPUNG —Jalan di Lempasing, 10 kilometer sebelah barat
Telukbetung, Lampung, sepanjang Minggu (28/4), menjadi lautan
manusia. Mereka bukan saja umat Budha dan etnis Tionghoa. Warga
Lampung pun ikut menyemut di antara ribuan orang itu. Mereka
berdesak-desakan ingin menyaksikan prosesi (kremasi) je-nazah Bhante
Ashin Jinarakkhita (79 tahun) di Krematorium, Lempasing.
Saat pelopor kebangkitan Budha di Indonesia itu dikremasi dengan
kayu yang ditanamnya 10 tahun silam, ribuan umatnya menitikkan air
mata sambil membacakan sutra suci namo ami tho fo.
Api penyempurnaan diba-wakan Sek Cong Seng, (88 yahun), bhante asal
Singapura yang telah menjalani 56 tahun masa kebikhuan. Sebelumnya,
ia dan beberapa bhante dan bikhsu memberikan penghormatan terakhir
kepada bhante Ashin yang juga alumnus UGM Yogyakarta tersebut. Dari
mancanegara sendiri hadir, bhante dan bikhsu dari Srilangka,
Singapura, Jepang, RRC, dan sejumlah negara lainnya. ”Waktu jenazah
masih di Jakarta, datang juga tujuh bikhsu dari Tibet,” kata
Barliantho Chan, ketua panitia kremasi.
Rasa haru semakin terasa saat Bikhu Tengsin, murid kesayangan Bhante
Ashin, berpidato sambil dipegangi dua bikhsu lainnya. ”Saya
mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat Budha yang telah
menghadiri kremasi ini. Saya minta maaf apabila semasa hidupnya
Bhante Ashin mempunyai kesalahan. Saya juga berharap umat Budha
semakin bersatu dalam memajukan ajaran Budha,” katanya dengan badan
berguncang-guncang menahan isak tangis dan mata berbinar-binar.
Penanganan prosesi itu sepenuhnya dilakukan para bikhsu dari Vihara
Sakyawanaram, Pacet, Jawa Barat. Mereka dikoordinasi oleh Y.A.
Bhiksu Aryamaitri. Pembakaran jenazah mempergunakan pohon minyak
kayu putih dan kayu gaharu yang telah dipotong- potong dan
dikeringkan. Sebagian kayu tersebut diambil dari Pacet, tempat
kediaman almarhum.
Pohonnya ditanam almarhum sendiri sejak lama. Sebagian kayu diambil
dari delapan pohon di sekitar krematorium yang ditanam almarhum
ketika berada di Lampung tahun 1969. Sementara dua pohon ditanam
tahun 60-an.
Menurut para bhiku, semasa hidup mendiang meminta dikremasi dengan
kayu dari pohon-pohon yang dia tanam sendiri. Beberapa pejabat teras
daerah juga hadir melayat. Di antaranya Walikota Bandar Lampung H.
Suharto, Dandim Kota, Ketua DPRD Kota. Mereka turut memberikan
penghormatan terakhir kepada almarhum.
Menjadi Loper
Yang Arya Mahasthavira Ashin Jinarakkhita dilahirkan di Bogor, Jawa
Barat, 23 Januari 1923. Oleh keluarganya yang sederhana ia diberi
nama Tee Boan An. Boan An berkembang sehat dan berhati teguh. Masa
kecilnya dia lewati dengan keprihatinan. Semasa SD, sekadar untuk
mendapatkan uang jajan, ia harus menjadi loper.
Boan An kecil menunjukkan bahwa keprihatinan materi bukanlah
halangan bagi kemurahan hati. Di antara teman-teman mainnya ia
dikenal sebagai sahabat yang suka berbagi permen dari hasil
keringatnya sendiri. Keruan, ia termasuk anak yang disenangi di
kelas.
Setelah menamatkan sekolah dasarnya di HSC Bogor, Boan An
melanjutkan pendidikan menengah di PHS dan kemudian HBS B (KW-III-S)
di Jakarta. Sejak itulah, ia mulai menunjukkan minat besar pada
dunia spritual. Sejak kecil ia telah menjadi vegetarian.
Pada masa liburan sekolah ia menghabiskan waktunya untuk belajar
kepada seorang haji di belakang rumahnya, ke kelenteng-kelenteng,
dan tokoh-tokoh teosofi.
Boan An mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di THS Bandung—
sekarang ITB—pada jurusan Ilmu Pasti Alam. Akan tetapi, baru setahun
di Bandung, pecah perang pasifik. Jepang masuk Indonesia sehingga
kuliahnya di THS terhenti. Boan An pulang ke kampung halamannya.
Pada 1946, tepatnya April, Boan An mengikuti pendidikan di
Belanda—sebagai penumpang pelajar pekerja. Di negeri Kincir Angin
itu ia meneruskan kuliahnya di Universeteit Gronigen. ia mengambil
jurusan ilmu kimia yang menjadi kesukaannya. Selain kuliah, ia
memperdalam pengetahuan spritual dan secara khusus tertarik pada
Budha Dharma.
Empat tahun kemudian, panggilan Budha Dharma di hatinya menguat. Ia
menjadi anagarika atau pelayan Budha. Bersama saudaranya dalam
perkumpulan teosofi dan gabungan tiga ajaran, ia memimpin perayaan
peringatan Hari Suci Waisak nasional di Candi Agung Borobudur pada
22 Mei 1953.
Inilah perayaan yang menjadi monumen perkembangan agama Budha di
Tanah Air sekaligus yang pertama dilakukan setelah masa Keprabuan
Majapahit berakhir. Perayaan itu membuka mata banyak orang bahwa
ajaran Budha bersemi di persada ini.
Tak lama kemudian, tepat pada hari lahir Bodhisattva
Avalokhitesvara, Boan An ditahbiskan dalam tradisi Mahayan menjadi
sramanera dengan nama Ti Chen. Ia di bawah bimbingan Yang Arya
Sanghanata Aryamula Mahabhiksu.
Atas anjuran gurunya, ia berangkat ke Burma (Myanmar) pada 1954
untuk melanjutkan belajar agama Budha. Selama di sana ia menjalani
latihan vipassana di Pusat Latihan Meditasi Mahasi Sasana Yeikhta,
Rangoon. Kemajuannya yang dicapai dalam waktu kurang satu bulan
menarik perhatian Yang Arya Mahasi Sayadaw—ketua pusat latihan dan
ahli meditasi yang sangat dihormati di dunia.
Akhirnya, Boan An menjalani penahbisan sebagai bhikhsu secara penuh
(upasampada) dengan guru spiritual utama Yang Arya Maha Pandita U
Ashin Sobbhana Mahathera atau lebih dikenal dengan julukan Mahasi
Sayadaw. Oleh gurunya yang kedua, ia diberi nama Jinarakkhita.
Artinya, orang yang pantas dilindungi dan diberkahi Buddha. Ia juga
mendapatkan gelar Ashin di depan namanya. Gelar ini diberikan kepada
bhikkhu yang patut dihormati secara khusus.
Di negeri orang, Bhante Ashin Jinarakkhita dikenal sebagai ”The
Flying Monk”. Ini berkat kegesitannya terbang dari satu tempat ke
tempat lain dalam kegiatan menjabarkan Dharma. Selama setahun ia
diundang terbang ke Singapura dan Malaysia. Di sana ia menghadiri
berbagai peresmian Vihara dan sekolah Budhis. Sahabat-sahabat
seperjuangan di Tanah Aair tidak sabar menunggu kepulangannya.
Berpuluh surat dikirim untuk meminta dia segera pulang untuk
mengakhiri dahaga mereka akan Dharma.
Menunggu 500 Tahun
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Pada 17 Januari 1955,
Bhante Ashin Jinarakkhita menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
Ratusan umat datang menyambut. Itulah untuk pertama kalinya seorang
putera Indonesia menjadi Bhante setelah lebih dari 500 tahun.
Maka babak baru perjalanan Budha Dharma di Bumi Pertiwi dimulai.
Perjalanan Dharma yang dilakukan Bhante Ashin Jinarakkhita akhirnya
menebarkan benih-benih Budha Dharma yang menjangkau seluruh wilayah
Indonesia. Pandita-pandita Budhis ditahbiskan di mana-mana. Mulai
dari kaki gunung hingga ke kawasan nyiur melambai.
Bersama murid-muridnya, Bhante Ashin Jinarakkhita—demikian ia akrab
dipanggil—menyelusup ke berbagai pelosok kampung. Pada malam hari
mereka menjabarkan Dharma. Perjalanan ini mencapai Bali dan
Makassar, Sumbagsel, Sumut, dan Kalimantan.
Pelita Dharma pun menyinarkan terang di mana-mana. Murid-murid
Bhante Ashin makin banyak. Pada 1959, ia mengundang bhikhu-bhikhu
dari luar negeri untuk mengadakan penahbisan bhikhu pertama kali di
Indonesia setelah berakhirnya Keprabuan Majapahit.
Pada Waisak 1959, berlangsunglah penahbisan itu. Bhikhu Jinaputta
dan Bhikhu Jinapiya mernjadi putera-putera Indonesia yeng pertama
kali ditahbiskan di Borobudur. Selanjutnya, makin banyak upasaka,
pandita, samanera, dan bhikkhu. Setelah itu, atas prakarsa Y.A.
Maasthavira Ashin Jinarakkhita, terbentuk Persaudaraan
Upasaka-Upasaka Indonesia (PUUI). Agama Budha makin menemukan tempat
pijakan di bumi ini. (SH/syafnizal datuk sinaro)
|