Senin, 29 April 2002

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4097


Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

Melepas Bhante Ashin Jinarakkhita dengan Kayu   

BANDAR LAMPUNG —Jalan di Lempasing, 10 kilometer sebelah barat Telukbetung, Lampung, sepanjang Minggu (28/4), menjadi lautan manusia. Mereka bukan saja umat Budha dan etnis Tionghoa. Warga Lampung pun ikut menyemut di antara ribuan orang itu. Mereka berdesak-desakan ingin menyaksikan prosesi (kremasi) je-nazah Bhante Ashin Jinarakkhita (79 tahun) di Krematorium, Lempasing.
Saat pelopor kebangkitan Budha di Indonesia itu dikremasi dengan kayu yang ditanamnya 10 tahun silam, ribuan umatnya menitikkan air mata sambil membacakan sutra suci namo ami tho fo.
Api penyempurnaan diba-wakan Sek Cong Seng, (88 yahun), bhante asal Singapura yang telah menjalani 56 tahun masa kebikhuan. Sebelumnya, ia dan beberapa bhante dan bikhsu memberikan penghormatan terakhir kepada bhante Ashin yang juga alumnus UGM Yogyakarta tersebut. Dari mancanegara sendiri hadir, bhante dan bikhsu dari Srilangka, Singapura, Jepang, RRC, dan sejumlah negara lainnya. ”Waktu jenazah masih di Jakarta, datang juga tujuh bikhsu dari Tibet,” kata Barliantho Chan, ketua panitia kremasi.
Rasa haru semakin terasa saat Bikhu Tengsin, murid kesayangan Bhante Ashin, berpidato sambil dipegangi dua bikhsu lainnya. ”Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat Budha yang telah menghadiri kremasi ini. Saya minta maaf apabila semasa hidupnya Bhante Ashin mempunyai kesalahan. Saya juga berharap umat Budha semakin bersatu dalam memajukan ajaran Budha,” katanya dengan badan berguncang-guncang menahan isak tangis dan mata berbinar-binar.
Penanganan prosesi itu sepenuhnya dilakukan para bikhsu dari Vihara Sakyawanaram, Pacet, Jawa Barat. Mereka dikoordinasi oleh Y.A. Bhiksu Aryamaitri. Pembakaran jenazah mempergunakan pohon minyak kayu putih dan kayu gaharu yang telah dipotong- potong dan dikeringkan. Sebagian kayu tersebut diambil dari Pacet, tempat kediaman almarhum.
Pohonnya ditanam almarhum sendiri sejak lama. Sebagian kayu diambil dari delapan pohon di sekitar krematorium yang ditanam almarhum ketika berada di Lampung tahun 1969. Sementara dua pohon ditanam tahun 60-an.
Menurut para bhiku, semasa hidup mendiang meminta dikremasi dengan kayu dari pohon-pohon yang dia tanam sendiri. Beberapa pejabat teras daerah juga hadir melayat. Di antaranya Walikota Bandar Lampung H. Suharto, Dandim Kota, Ketua DPRD Kota. Mereka turut memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Menjadi Loper
Yang Arya Mahasthavira Ashin Jinarakkhita dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, 23 Januari 1923. Oleh keluarganya yang sederhana ia diberi nama Tee Boan An. Boan An berkembang sehat dan berhati teguh. Masa kecilnya dia lewati dengan keprihatinan. Semasa SD, sekadar untuk mendapatkan uang jajan, ia harus menjadi loper.
Boan An kecil menunjukkan bahwa keprihatinan materi bukanlah halangan bagi kemurahan hati. Di antara teman-teman mainnya ia dikenal sebagai sahabat yang suka berbagi permen dari hasil keringatnya sendiri. Keruan, ia termasuk anak yang disenangi di kelas.
Setelah menamatkan sekolah dasarnya di HSC Bogor, Boan An melanjutkan pendidikan menengah di PHS dan kemudian HBS B (KW-III-S) di Jakarta. Sejak itulah, ia mulai menunjukkan minat besar pada dunia spritual. Sejak kecil ia telah menjadi vegetarian.
Pada masa liburan sekolah ia menghabiskan waktunya untuk belajar kepada seorang haji di belakang rumahnya, ke kelenteng-kelenteng, dan tokoh-tokoh teosofi.
Boan An mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di THS Bandung— sekarang ITB—pada jurusan Ilmu Pasti Alam. Akan tetapi, baru setahun di Bandung, pecah perang pasifik. Jepang masuk Indonesia sehingga kuliahnya di THS terhenti. Boan An pulang ke kampung halamannya.
Pada 1946, tepatnya April, Boan An mengikuti pendidikan di Belanda—sebagai penumpang pelajar pekerja. Di negeri Kincir Angin itu ia meneruskan kuliahnya di Universeteit Gronigen. ia mengambil jurusan ilmu kimia yang menjadi kesukaannya. Selain kuliah, ia memperdalam pengetahuan spritual dan secara khusus tertarik pada Budha Dharma.
Empat tahun kemudian, panggilan Budha Dharma di hatinya menguat. Ia menjadi anagarika atau pelayan Budha. Bersama saudaranya dalam perkumpulan teosofi dan gabungan tiga ajaran, ia memimpin perayaan peringatan Hari Suci Waisak nasional di Candi Agung Borobudur pada 22 Mei 1953.
Inilah perayaan yang menjadi monumen perkembangan agama Budha di Tanah Air sekaligus yang pertama dilakukan setelah masa Keprabuan Majapahit berakhir. Perayaan itu membuka mata banyak orang bahwa ajaran Budha bersemi di persada ini.
Tak lama kemudian, tepat pada hari lahir Bodhisattva Avalokhitesvara, Boan An ditahbiskan dalam tradisi Mahayan menjadi sramanera dengan nama Ti Chen. Ia di bawah bimbingan Yang Arya Sanghanata Aryamula Mahabhiksu.
Atas anjuran gurunya, ia berangkat ke Burma (Myanmar) pada 1954 untuk melanjutkan belajar agama Budha. Selama di sana ia menjalani latihan vipassana di Pusat Latihan Meditasi Mahasi Sasana Yeikhta, Rangoon. Kemajuannya yang dicapai dalam waktu kurang satu bulan menarik perhatian Yang Arya Mahasi Sayadaw—ketua pusat latihan dan ahli meditasi yang sangat dihormati di dunia.
Akhirnya, Boan An menjalani penahbisan sebagai bhikhsu secara penuh (upasampada) dengan guru spiritual utama Yang Arya Maha Pandita U Ashin Sobbhana Mahathera atau lebih dikenal dengan julukan Mahasi Sayadaw. Oleh gurunya yang kedua, ia diberi nama Jinarakkhita. Artinya, orang yang pantas dilindungi dan diberkahi Buddha. Ia juga mendapatkan gelar Ashin di depan namanya. Gelar ini diberikan kepada bhikkhu yang patut dihormati secara khusus.
Di negeri orang, Bhante Ashin Jinarakkhita dikenal sebagai ”The Flying Monk”. Ini berkat kegesitannya terbang dari satu tempat ke tempat lain dalam kegiatan menjabarkan Dharma. Selama setahun ia diundang terbang ke Singapura dan Malaysia. Di sana ia menghadiri berbagai peresmian Vihara dan sekolah Budhis. Sahabat-sahabat seperjuangan di Tanah Aair tidak sabar menunggu kepulangannya. Berpuluh surat dikirim untuk meminta dia segera pulang untuk mengakhiri dahaga mereka akan Dharma.

Menunggu 500 Tahun
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Pada 17 Januari 1955, Bhante Ashin Jinarakkhita menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Ratusan umat datang menyambut. Itulah untuk pertama kalinya seorang putera Indonesia menjadi Bhante setelah lebih dari 500 tahun.
Maka babak baru perjalanan Budha Dharma di Bumi Pertiwi dimulai. Perjalanan Dharma yang dilakukan Bhante Ashin Jinarakkhita akhirnya menebarkan benih-benih Budha Dharma yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Pandita-pandita Budhis ditahbiskan di mana-mana. Mulai dari kaki gunung hingga ke kawasan nyiur melambai.
Bersama murid-muridnya, Bhante Ashin Jinarakkhita—demikian ia akrab dipanggil—menyelusup ke berbagai pelosok kampung. Pada malam hari mereka menjabarkan Dharma. Perjalanan ini mencapai Bali dan Makassar, Sumbagsel, Sumut, dan Kalimantan.
Pelita Dharma pun menyinarkan terang di mana-mana. Murid-murid Bhante Ashin makin banyak. Pada 1959, ia mengundang bhikhu-bhikhu dari luar negeri untuk mengadakan penahbisan bhikhu pertama kali di Indonesia setelah berakhirnya Keprabuan Majapahit.
Pada Waisak 1959, berlangsunglah penahbisan itu. Bhikhu Jinaputta dan Bhikhu Jinapiya mernjadi putera-putera Indonesia yeng pertama kali ditahbiskan di Borobudur. Selanjutnya, makin banyak upasaka, pandita, samanera, dan bhikkhu. Setelah itu, atas prakarsa Y.A. Maasthavira Ashin Jinarakkhita, terbentuk Persaudaraan Upasaka-Upasaka Indonesia (PUUI). Agama Budha makin menemukan tempat pijakan di bumi ini. (SH/syafnizal datuk sinaro)
 

Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga
| Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda

Copyright © Sinar Harapan 2002