Jum'at, 5 April 2002

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  4078


Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Hiburan
Feature
Mandiri
Ritel
Hobi
Wisata
Eureka
Kesehatan
Cafe & Resto
Otomotif
Properti
Budaya
CEO
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 

Memahami Keajaiban Pikiran 

Oleh Nizar Maulana

Hidup sesungguhnya menyenangkan. Dalam menapaki kehidupan kita saat ini, kita memang masih kerap menjumpai hal-hal yang tidak menyenangkan. Tawuran antarpelajar, tabrakan kereta api, konflik antarelite politik, dan tidak berhasil meraih apa-apa yang kita inginkan adalah sebagian kecil hal-hal yang tidak menyenangkan itu.
Namun. hal-hal yang tampak tidak menyenangkan itu dapat kita hadapi—apabila kita memang harus bersentuhan dengannya—dengan diri kita yang sudah kita posisikan untuk berada dalam keadaan menyenangkan (fun).
Lewat buku menarik plus menggairahkan, berjudul Revolusi Cara Belajar ini, Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos menunjukkan kepada kita cara memosisikan diri agar dapat berada dalam keadaan fun. Adalah Peter Klien, penulis The Everyday Genius, sebagaimana dikutip dalam buku ini, yang menyatakan bahwa ”learning is most effective when it’s fun”. (hal. 22)
Model Learning Revolution, dengan menciptakan lingkungan yang baik, maka anak-anak dari keluarga miskin sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri, dalam hal ini penulis buku mengambil contoh di daerah kecil di Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk paling jarang. Semua anak berusia 4 tahun di taman bermain Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis, dan melakukan hitungan besar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. (hal. 25)
Dengan model Learning Revolution ini juga, informasi yang kompleks sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika siswa benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran.
Di Hatings, Selandia Baru, anak-anak berusia 11 tahun yang ketinggalan 5 tahun dalam hal membaca, mampu mengejarnya dalam waktu delapan minggu sampai sepuluh minggu melalui ”program membaca dengan bantuan pemutar kaset”. Padahal ketertinggalan semacam ini biasanya dikejar dalam waktu 3,3 tahun. (hal. 27)
Di halaman lain buku ini, ditemukan pula suatu pernyataan mencengangkan dari Toni Buzan, penemu konsep Mind Mapping (pemetaan pikiran).
Buzan menyatakan, otak manusia terdiri dari triliunan sel otak. Setiap sel otak seperti gurita kecil yang begitu kompleks. Ia memiliki sebuah pusat, dengan banyak cabang, dan setiap cabang memiliki banyak koneksi. Tiap-tiap sel otak tersebut jauh lebih kuat dan canggih daripada kebanyakan komputer di planet ini. Setiap sel tersebut berhubungan dengan ratusan ribu sampai puluhan ribu sel yang lain, dan mereka saling bertukar informasi. Ini disebut sebagai jaringan yang sangat mempesona dan setiap orang memilikinya. (hal. 113)
Bayangkan, apabila suatu saat, Anda dapat menyatukan pernyataan Kline dan Buzan sekaligus, apa yang akan terjadi? Jelas kekuatan pikiran kita akan meraksasa apabila diri kita dalam keadaan menyenangkan.
Menyenangkan berarti seluruh komponen fisik dan nonfisik kita bebas dari tekanan. Menyenangkan berarti kita berada dalam keadaan yang amat relaks, tidak ada sama sekali ketegangan yang mengancam diri kita di sudut-sudut terkecil dalam diri fisik dan nonfisik kita. Menyenangkan juga berarti diri kita benar-benar dalam keadaan lepas, bebas, dan luas.
Keadaan menyenangkan dalam belajar, apabila yang dipelajari sesuai dengan minat dan kecerdasan, akan berdampak terhadap keberhasilan dan kesuksesan diri, dalam hal ini dijelaskan bahwa kontribusi IQ hanya 20 persen dalam menentukan kesuksesan. Adapun 80 persen sisanya mencakup ke dalam kecerdasan EQ dan SQ dalam menentukan kesuksesan tersebut.
Menurut Profesor Howard Gardner, dari Universitas Harvard, setidaknya ada delapan tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, naturalis, interpersonal, intrapersonal, dan fisik (hal. 120). Untuk memfungsikan itu semua, walaupun kenyataannya hanya sebagian kecerdasan yang dapat kita maksimalkan, terdapat enam jalur utama menuju otak, yaitu melalui apa yang kita lihat, dengar, kecap, sentuh, baui, dan apa yang kita lakukan.

Kesatuan Tubuh-Pikiran
Berdasarkan penelitian akhir, kepercayaan religius kuno menegaskan bahwa tubuh dan pikiran bertindak sebagai suatu kesatuan yang utuh, yang telah ditemukan oleh Dr. Candate Pert yang sangat penting, dengan mulai ditemukannya receptor opiate otak, 1970-an. Dia menggambarkan receptor sebagai ”molekul perasa”-sebagai scanner mikroskopis dan molekuler, dengan berhasil menunjukkan ”susunan molekuler emosi”: peptida yang mengunci receptor pikiran. Akan tetapi molekul emosi hasilnya tidak terbatas pada otak. Ia menjalankan setiap sistem dalam tubuh kita. Adapun peptida adalah lembaran kertas musik yang berisi catatan, frase, dan irama yang memungkinkan orkestra—tubuh Anda—untuk bermain sebagai entitas terpadu.
Jadi, memori–yang begitu penting dalam belajar–disimpan dalam seluruh bagian tubuh, dan dari mana pun informasi masuk tubuh, entah melalui penglihatan, pendengaran, pengecapan, persentuhan, atau pembauan, jejak memori tidak hanya disimpan di dalam otak, tetapi juga di dalam tubuh. Dengan cara ini–menurutnya–tubuh menjadi pikiran ”tak sadar”. Antara pikiran dan tubuh bekerja sebagai pikiran yang menapis, menyimpan, belajar, dan mengingat: unsur-unsur kunci dalam belajar.
Dengan demikian otak akan mampu bekerja secara efektif dan maksimal apabila menggunakannya secara teratur. Camkan kata-kata kuno ”if you don’t use it, you lose it”, dapat diterapkan pada otak dan otot kita. Gunakan mereka semua sebagai sesuatu yang terpadu, dan proses belajarpun akan menjadi lebih mudah dan lebih sederhana.

Penulis adalah aktivis Fascho Learning Society for Education, Ciputat.
  
 


Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga
| Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda

Copyright © Sinar Harapan 2002