|
Memahami Keajaiban Pikiran
Oleh Nizar Maulana
Hidup sesungguhnya menyenangkan. Dalam menapaki kehidupan kita saat
ini, kita memang masih kerap menjumpai hal-hal yang tidak
menyenangkan. Tawuran antarpelajar, tabrakan kereta api, konflik
antarelite politik, dan tidak berhasil meraih apa-apa yang kita
inginkan adalah sebagian kecil hal-hal yang tidak menyenangkan itu.
Namun. hal-hal yang tampak tidak menyenangkan itu dapat kita
hadapi—apabila kita memang harus bersentuhan dengannya—dengan diri
kita yang sudah kita posisikan untuk berada dalam keadaan
menyenangkan (fun).
Lewat buku menarik plus menggairahkan, berjudul Revolusi Cara
Belajar ini, Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos menunjukkan kepada
kita cara memosisikan diri agar dapat berada dalam keadaan fun.
Adalah Peter Klien, penulis The Everyday Genius, sebagaimana dikutip
dalam buku ini, yang menyatakan bahwa ”learning is most effective
when it’s fun”. (hal. 22)
Model Learning Revolution, dengan menciptakan lingkungan yang baik,
maka anak-anak dari keluarga miskin sekalipun akan berkembang dalam
proses belajar mandiri, dalam hal ini penulis buku mengambil contoh
di daerah kecil di Montana, negara bagian Amerika yang berpenduduk
paling jarang. Semua anak berusia 4 tahun di taman bermain
Montessori International telah mampu mengeja, membaca, menulis, dan
melakukan hitungan besar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah. (hal.
25)
Dengan model Learning Revolution ini juga, informasi yang kompleks
sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika siswa
benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran.
Di Hatings, Selandia Baru, anak-anak berusia 11 tahun yang
ketinggalan 5 tahun dalam hal membaca, mampu mengejarnya dalam waktu
delapan minggu sampai sepuluh minggu melalui ”program membaca dengan
bantuan pemutar kaset”. Padahal ketertinggalan semacam ini biasanya
dikejar dalam waktu 3,3 tahun. (hal. 27)
Di halaman lain buku ini, ditemukan pula suatu pernyataan
mencengangkan dari Toni Buzan, penemu konsep Mind Mapping (pemetaan
pikiran).
Buzan menyatakan, otak manusia terdiri dari triliunan sel otak.
Setiap sel otak seperti gurita kecil yang begitu kompleks. Ia
memiliki sebuah pusat, dengan banyak cabang, dan setiap cabang
memiliki banyak koneksi. Tiap-tiap sel otak tersebut jauh lebih kuat
dan canggih daripada kebanyakan komputer di planet ini. Setiap sel
tersebut berhubungan dengan ratusan ribu sampai puluhan ribu sel
yang lain, dan mereka saling bertukar informasi. Ini disebut sebagai
jaringan yang sangat mempesona dan setiap orang memilikinya. (hal.
113)
Bayangkan, apabila suatu saat, Anda dapat menyatukan pernyataan
Kline dan Buzan sekaligus, apa yang akan terjadi? Jelas kekuatan
pikiran kita akan meraksasa apabila diri kita dalam keadaan
menyenangkan.
Menyenangkan berarti seluruh komponen fisik dan nonfisik kita bebas
dari tekanan. Menyenangkan berarti kita berada dalam keadaan yang
amat relaks, tidak ada sama sekali ketegangan yang mengancam diri
kita di sudut-sudut terkecil dalam diri fisik dan nonfisik kita.
Menyenangkan juga berarti diri kita benar-benar dalam keadaan lepas,
bebas, dan luas.
Keadaan menyenangkan dalam belajar, apabila yang dipelajari sesuai
dengan minat dan kecerdasan, akan berdampak terhadap keberhasilan
dan kesuksesan diri, dalam hal ini dijelaskan bahwa kontribusi IQ
hanya 20 persen dalam menentukan kesuksesan. Adapun 80 persen
sisanya mencakup ke dalam kecerdasan EQ dan SQ dalam menentukan
kesuksesan tersebut.
Menurut Profesor Howard Gardner, dari Universitas Harvard,
setidaknya ada delapan tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik,
matematis-logis, visual-spasial, musikal, naturalis, interpersonal,
intrapersonal, dan fisik (hal. 120). Untuk memfungsikan itu semua,
walaupun kenyataannya hanya sebagian kecerdasan yang dapat kita
maksimalkan, terdapat enam jalur utama menuju otak, yaitu melalui
apa yang kita lihat, dengar, kecap, sentuh, baui, dan apa yang kita
lakukan.
Kesatuan Tubuh-Pikiran
Berdasarkan penelitian akhir, kepercayaan religius kuno menegaskan
bahwa tubuh dan pikiran bertindak sebagai suatu kesatuan yang utuh,
yang telah ditemukan oleh Dr. Candate Pert yang sangat penting,
dengan mulai ditemukannya receptor opiate otak, 1970-an. Dia
menggambarkan receptor sebagai ”molekul perasa”-sebagai scanner
mikroskopis dan molekuler, dengan berhasil menunjukkan ”susunan
molekuler emosi”: peptida yang mengunci receptor pikiran. Akan
tetapi molekul emosi hasilnya tidak terbatas pada otak. Ia
menjalankan setiap sistem dalam tubuh kita. Adapun peptida adalah
lembaran kertas musik yang berisi catatan, frase, dan irama yang
memungkinkan orkestra—tubuh Anda—untuk bermain sebagai entitas
terpadu.
Jadi, memori–yang begitu penting dalam belajar–disimpan dalam
seluruh bagian tubuh, dan dari mana pun informasi masuk tubuh, entah
melalui penglihatan, pendengaran, pengecapan, persentuhan, atau
pembauan, jejak memori tidak hanya disimpan di dalam otak, tetapi
juga di dalam tubuh. Dengan cara ini–menurutnya–tubuh menjadi
pikiran ”tak sadar”. Antara pikiran dan tubuh bekerja sebagai
pikiran yang menapis, menyimpan, belajar, dan mengingat: unsur-unsur
kunci dalam belajar.
Dengan demikian otak akan mampu bekerja secara efektif dan maksimal
apabila menggunakannya secara teratur. Camkan kata-kata kuno ”if you
don’t use it, you lose it”, dapat diterapkan pada otak dan otot
kita. Gunakan mereka semua sebagai sesuatu yang terpadu, dan proses
belajarpun akan menjadi lebih mudah dan lebih sederhana.
Penulis adalah aktivis Fascho Learning Society for Education,
Ciputat.
|