|
Sigung, si
Bulu Indah Berbau Busuk
DI mancanegara,
hewan bernama sigung tenar dengan nama skunk atau stink badger. Ia
terdiri dari dua spesies, yaitu sigung Indonesia yang bernama Latin
Mydaus javanensis dan sigung Palawan alias Mydaus marchei. Jenis
terakhir ini memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari yang pertama.
Keduanya menghasilkan gas berbau tak sedap yang berasal dari anal.
Di Malaysia, hewan mamalia ini dipanggil dengan sebutan teledu.
Bau busuk yang keluar dari lubang dubur sigung merupakan hasil
sekresi. Bau inilah yang dijadikan alat bela diri saat sigung ada
dalam bahaya. Musuh-musuhnya, termasuk manusia pemburu, tidak tahan
dengan kebusukan bau tersebut dan langsung melarikan diri. Uniknya,
asap penyebar bau ini mempunyai warna, yaitu hijau. Predator paling
ganas dari hewan ini adalah burung elang alap-alap dan harimau.
Di seluruh dunia, habitat sigung hanya terdapat di Sumatera, Jawa,
Filipina, Kalimantan dan kepulauan Natuna. Itu pun, saat ini, sudah
jarang dijumpai. Di Jawa, sigung masih bisa dijumpai di wilayah
Taman Nasional Gunung Pangrango dan beberapa hutan di kawasan Jawa
Barat. Orang Amerika dan Eropa senang memelihara sigung seperti
halnya kucing atau anjing karena daya pikat bulunya yang indah.
Tergolong dalam famili mustiledae dan genus mydaus, sigung adalah
hewan bermoncong panjang berbulu lebat dan panjang. Warna bulu
tersebut didominasi coklat tua atau hitam dengan belang putih. Warna
putih berada di tengah bagian tubuh, yaitu dari tengah bagian atas
kepala hingga ekor.
Kaki sigung terbilang pendek tapi memiliki otot kuat. Bobot tubuh
sigung cukup bervariasi, antara 1,4 - 3,6 kilogram. Panjang badannya
bisa mencapai 50 sentimeter.
Sigung yang jumlahnya kian menyusut ini suka memangsa berbagai hewan
invertibrata seperti serangga dan cacing. Mereka mencari makanan
dengan cara menggali tanah dengan kaki depan. Sigung termasuk
golongan binatang penyendiri yang mencari mangsa saat hari gelap.
Sementara dari pagi hingga petang, ia lebih suka bersembunyi dalam
terowongan. (mer)
|