|
Rachmawati Soekarnoputri: Pemerintahan Megawati, Pola Orba Jilid Dua
Jakarta, Sinar Harapan
Ketua Yayasan Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri mengatakan, pola
pemerintahan Orba sangat melekat dalam pemerintahan Megawati.
Penyebabnya, Megawati menjadi presiden karena melakukan bargaining
position dengan kekuatan Orba. Untuk itu, pemerintahan Megawati
disebutnya sebagai Orba jilid II.
Rachmawati yang juga adik Presiden Megawati mengatakan itu kepada
wartawan di sela-sela peluncuran buku ”No Regreats” karya Wimar
Witoelar dan ”Autobiografi Gus Dur” karya Dr. Greg Barton di Hotel
Hilton Jakarta, Kamis malam (28/2).
Menurut Rachma, pemerintahan Megawati juga sangat terasa dengan
adanya dualisme. Megawati, katanya, sudah terkait dengan komitmen
politik dengan Orba.
”Ya dari awal, kalau di dalam misinya memposisikan diri, katakanlah
sebagai antitesa terhadap Orba, hanya untuk mencapai kekuasaan. Itu
nggak tepat. Kalau misi, untuk mencapai kekuasaan, setelah kekuasaan
itu jatuh, lengser, lalu akan diapakan?. Yang perlu, misi di sini,
bagaimana kita melakukan perubahan sistem. Jadi, bukan perubahan
kekuasaan orang per orang,” ujar Rachma.
Mengenai pemerintahan Megawati, kata Rachma, sudah jelas kalau
dilahirkan dalam pola sistem lama. Selain itu, pemerintahan tak
punya basis idiologi yang jelas.
”Kita sudah tahu, lahirnya pemerintahan Megawati karena ada
konsensus dan konspirasi dari kekuatan lainnya, sehingga kalau
sekarang pola kepemimpinannya sangat ambivalen, standar ganda. Itu
karena integritas kepemimpinan itu tidak mandiri lagi,” tegasnya.
Rachmawati menegaskan, pemerintahan Megawati sebagai Orba jilid dua.
Karena, yang direbut semata-mata posisi kekuasaan. Jadi, bukan untuk
perubahan sistem.
”Perubahan sistem sangat prinsipil. Maka, benar kalau dibilang Orba
jilid dua. Itu bukan dalam rangka perubahan sistem yang
fundamental,” kata Rachma.
Menyinggung mengenai mutasi TNI dengan menampilkan orang
”bermasalah” dalam pemerintahan Megawati, Rachma mengatakan,
reposisi TNI harus memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga tidak
kembali ke pola lama, dimana TNI diposisikan sebagai alat kekuasaan.
Menurutnya, tak bisa dipungkiri, pemerintahan Megawati lahir dalam
suasana dimana ada konflik internal dalam tubuh TNI.
Untuk itu, katanya, tak mengherankan, kalau orang di era reformasi
yang ”bermasalah”, kini diakomodir dalam pemerintahan Megawati.
Visi Tak Jelas
Menyingung mengenai peran partai politik, Rachma mengatakan, kini
kelihatan hampir semua partai, termasuk PDI Perjuangan tidak
mempunyai basis idiologi. Tidak mempunyai basis idiologi yang kuat,
katanya, menyebabkan partai politik tidak mempunyai misi atau
konsep. Apalagi, untuk implementasi seperti janji pada masa Pemilu.
”Hampir semua partai saat ini seperti itu,” jelasnya.
Selama ini, jelasnya, ia melihat partai politik tidak jelas
memposisikan dirinya. Soalnya, selalu berkonotasi pembuatan partai
itu untuk perebutan kekuasaan. Padahal, misi institusi seperti
partai atau dalam konsep seperti Bung Karno, harus bisa melahirkan
dan mengimplementasikan visi dan misi.
”Misi dan visi itu bermula dari pemikiran idiologi yang menjadi
platform partai, azas partai. Tanpa itu, nonsens bicarakan bagaimana
mensejahterahkan rakyat dan sebagainya,” kata Rachma. (ady/edl)
|