|
Benang Kusut Kapitalisme Amerika, Enron Inc.
Oleh Nazhi Siregar
Pada tanggal 2 Desember 2001, dunia ekonomi dikejutkan dengan berita
yang berasal dari kota minyak Houston di Texas, Amerika. Enron,
perusahaan ketujuh terbesar di Amerika, perusahaan energi
perdagangan terbesar di dunia menyatakan dirinya bangkrut. Lebih
mengejutkan lagi, kebangkrutan ini bukan disebabkan oleh ekonomi
dunia yang sedang melemah, melainkan kesalahan fatal dalam sistem
akuntan mereka. Selama tujuh tahun terakhir, Enron melebih-lebihkan
laba bersih dan menutup-tutupi utang mereka. Auditor independen,
Andersen (yang dahulu dikenal sebagai Arthur Andersen), dituding
ikut berperan dalam "menyusun" pembukuan kreatif Enron. Lebih buruk
lagi, kantor hukum yang menjadi penasihat Enron, Vinson & Eikins,
juga dituduh ikut ambil bagian dalam korupsi skala dunia ini dengan
membantu membuka partnership-partnership kontroversial yang dianggap
sebagai biang keladi dari kehancuran Enron. Terakhir, bank investasi
besar di Wallstreet seperti Salomon Smith Barney unit, Credit Suisse
First Boston, Merrill Lynch, Goldman Sachs, J.P. Morgan Chase and
Lehman Bros, ikut meraup 214 juta dolar AS dalam komisi sebagai
penjual saham dan obligasi dari Enron.
”Partnership” Kontroversial
Kejatuhan Enron bermula dari dibukanya partnership-partnership yang
bertujuan untuk menambah keuntungan pada Enron.
Partnership-partnership yang diberi nama "special purspose
partnership" memang memiliki karateristik yang istimewa. Enron
mendirikan kongsi dengan seorang partner dagang. Partner dagang
mereka biasanya hanya satu untuk setiap partnership dan kongsi
dagang ini menyumbang modal yang sangat sedikit, sekitar 3% dari
jumlah modal keseluruhan. Lalu mengapa Enron berminat untuk
berpartisipasi dalam partnership dimana Enron menyumbang 97% dari
modal?
Ternyata secara hukum perusahaan di Amerika, apabila induk
perusahaan berpartisipasi dalam partnership dimana partner dagang
menyumbang sedikitnya 3% dari modal keseluruhan, maka neraca
partnership ini tidak perlu dikonsolidasi dengan neraca dari induk
perusahaan. Tetapi, partnership ini harus dijabarkan secara terbuka
dalam laporan akhir tahunan dari induk perusahaan agar pemegang
saham dari induk perusahaan maklum dengan keberadaan operasi
tersebut.
Lalu dari mana Enron membiayai partnership-partnership tersebut?
Inilah hebatnya Enron. Enron membiayai dengan "meminjamkan" saham
Enron (induk perusahaan) kepada Enron (anak perusahaan) sebagai
modal dasar partnership-partnership tersebut. Secara singkat, Enron
sesungguhnya mengadakan transaksi dengan dirinya sendiri.
Entah Enron berubah menjadi tamak atau kreativitas mereka semakin
menjadi-jadi, Enron tidak pernah mengungkapkan operasi dari
partnership-partnership tersebut dalam laporan keuangan yang
ditujukan kepada pemegang saham dan Security Exchange Commission
(SEC), badan tertinggi pengawasan perusahaan publik di Amerika.
Lebih jauh lagi, Enron bahkan memindahkan utang-utang sebesar 690
juta dolar AS yang ditimbulkan induk perusahaan ke partnership
partnership tersebut. Akibatnya, laporan keuangan dari induk
perusahaan terlihat sangat atraktif, menyebabkan harga saham Enron
melonjak menjadi 90 dolar AS pada bulan Februari 2001. Perhitungan
menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tersebut, Enron telah
melebih-lebihkan laba mereka sebanyak 650 juta dolar AS.
Peranan Auditor Andersen
Bulan September 2001, pemerintah mulai mencium adanya ketidakberesan
dalam laporan pembukuan Enron. Satu bulan kemudian, Enron
mengumumkan kerugian sebesar 600 juta dolar AS dan nilai aset Enron
menyusut 1,2 triliun dolar AS. Pada laporan keuangan yang sama
diakui, bahwa selama tujuh tahun terakhir, Enron selalu
melebih-lebihkan laba bersih mereka. Akibat laporan mengejutkan ini,
nilai saham Enron mulai anjlok dan saat Enron mengumumkan bahwa
perusahaan harus gulung tingkar, 2 Desember 2001, harga saham Enron
hanya 26 sen. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah
Andersen, sebagai auditor independen yang ditunjuk untuk memeriksa
kesehatan dari pembukuan Enron mengetahui keberadaan "akuntan
kreatif" yang diterapkan Enron dan pura-pura tidak mengetahuinya?
Hukum perusahaan Amerika menyatakan bahwa setiap perusahaan terbuka
Amerika, harus diperiksa pembukuannya oleh auditor independen dari
Certified Public Accounting Firm (kantor akuntan bersertifikat). Di
dunia ini ada lima kantor akuntan publik bersertifikat yang sangat
berpengaruh. Sedemikian besarnya lima kantor itu, sehingga mereka
dikenal sebagai The Big Five atau Lima Besar. Mereka adalah Price
Waterhouse Coopers, Deloitte& Touche, Ernst & Young, KPMG dan
Andersen. Berbeda dengan negara industri besar lain seperti Jepang
dan Jerman, di Amerika selain mengaudit perusahaan-perusahaan besar
terkemuka, "Lima Besar" juga memberikan konsultasi yang bertujuan
untuk memberi nilai tambah terhadap perusahaan tersebut.
Tidak jarang, "Lima Besar" menerima uang lebih banyak dari jasa
konsultasi daripada jasa audit, seperti kasus Enron di mana Andersen
menerima 27 juta dolar AS dari konsultasi dan 25 juta dolar AS dari
audit. Akibatnya, timbul kesangsian akan kejujuran dan kejernihan
dari laporan audit mereka terhadap pumbukuan Enron.
Yang lebih mengejutkan dunia akuntan adalah peristiwa penghancuran
dokumen yang dilakukan oleh David Duncan, ketua partner dari
Andersen untuk Enron. Panik karena menerima undangan untuk diminta
kesaksiannya di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika (Congress), Duncan
memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan ratusan kertas kerja
(workpapers) dan e-mail yang berhubungan dengan-Enron. Kertas kerja
adalah dukumen penting dalam dunia profesi akuntan yang berhubungan
dengan laporan keuangan dari klien. Secara umum, setiap kertas
kerja, komunikasi dan laporan keuangan harus didokumentasikan dengan
baik selama 6 tahun. Baru setelah 6 tahun, dokumen tersebut bisa
dihancurkan. Peristiwa penghancuran dokumen ini memberi keyakinan
pada publik dan Congress bahwa Andersen sebenarnya mengetahui bisnis
buruk dari Enron, tetapi tidak mau mengungkapkannya dalam laporan
audit mereka, karena mereka takut kehilangan Enron sebagai klien.
Peranan Gedung Putih
Yang menambah ruwetnya skandal ini adalah keterlibatan Gedung Putih
dengan Enron. Sejak tahun 1989 hingga saat ini, Enron "menyumbang
dana" pada Washington sebesar 5,7 juta dolar AS, dengan pembagian
4,1 juta dolar AS untuk Partai Republik dan sisanya untuk golongan
yang lain. Lebih lanjut, seperti yang diketahui publik sekarang ini,
hubungan Presiden George W. Bush dengan Kenneth Lay, Komisaris dan
Chief Executive Officer Enron sangatlah mesra. Ken Lay adalah
kontributor terbesar selama kampanye kepresidenan dengan menyumbang
sebesar 625.000 dolar AS menyebabkan President Bush memanggil Ken
Lay dengan nama kesayangan, "Kenny Boy."
Dari mana Enron mengalokasikan dana sebanyak itu untuk disumbangkan
kepada calon presiden dan partainya? Jawabannya terletak pada
kompleksitas hukum perpajakan Amerika. Selama lima tahun terakhir,
walaupun memiliki laba bersih miliaran dolar, Enron tidak membayar
pajak sepeser pun. Hukum perpajakan Amerika menegaskan bahwa stock
option atau opsi kepemilikan perusahaan bisa dikategorikan sebagai
"gaji/upah" pegawai. Karena Enron selama ini memberikan bonus dan
kompensasi kepada pegawainya dalam bentuk stock option, maka walau
dalam bentuk fisik hanyalah kertas, Enron mampu mengurangi nilai
laba mereka dengan nilai opsi tersebut di pasar bebas. Bila
keuntungan Enron dikurangi dengan nilai opsi tersebut, maka sebagai
hasil akhir Enron tidak memiliki laba sama sekali dan perusahaan
yang tidak memiliki laba tidak membayar pajak.
Lebih buruk lagi, Enron memiliki lebih dari 90 perusahaan off-shore
atau perusahaan yang didirikan di negara kepulauan yang bebas pajak
atau berpajak rendah yang tujuan utamanya untuk memindahkan
pendapatan dari Amerika ke negara kepulauan tersebut. Sistem ini,
sebenarnya adalah legal menurut hukum perpajakan Amerika selama
peraturan-peraturan yang ada mengenai pendapatan yang mudah
dipindahkan (mobile income) ditaati. Negara-negara yang terkenal
sebagai negara off-shore adalah Bahamas, Bermuda, Cayman Islands,
British Virgin Islands dan Mauritius.
Selain itu, hubungan Ken Lay dengan Wakil Presiden Dick Chenney
sangatlah dekat. Walau menjabat sebagai direktur dari perusahaan
energi terbesar di dunia, Ken Lay adalah penasihat ahli untuk
Chenney dalam menyusun reformasi energi. Dengan kata lain, seorang
wakil presiden menerima nasihat dari seseorang yang juga akan
menjalankan nasihat tersebut! Ini sama dengan mengangkat Tommy
Soeharto sebagai penasihat untuk mengatasi persoalan Goro! Untuk
"upah" sebagai penasihat, pemerintah mengeluarkan
kebijakan-kebijakan energi yang menguntungkan perusahaan energi
seperti ditiadakannya penalti berat untuk perusak lingkungan. Lebih
lanjut, Presiden Bush mengajukan proposal untuk memotong pajak bagi
perusahaan untuk mestimulus ekonomi yang sedang dilanda resesi.
Apabila proposal ini disetujui Congress, maka pemerintah Amerika
akan memberikan pengembalian pajak yang dibayar Enron pada
tahun-tahun terdahulu sebesar 245 juta dolar AS! Sungguh memalukan!
Korban-korban Berjatuhan
Korban pertama dari kehancuran Enron adalah ribuan pegawainya. Tidak
hanya mereka kehilangan pekerjaan, tetapi juga tabungan pensiunan
mereka. Dalam hukum perpajakan Amerika, setiap pekerja bisa menabung
sebanyak-bayaknya 12,000 dolar AS setahun dan tidak akan dikenai
pajak. Baru ketika pekerja menginjak usia 60, ia berhak mengambil
dana tersebut dan membayar pajak seperti layaknya penghasilan biasa.
Selama berada dalam tabungan pensiunan, uang tersebut akan
ditanamkan dalam bentuk saham dan obligasi dengan harapan si
penabung akan meraup bunga sebanyak-banyaknya bila ia siap pensiun.
Karena biasanya perusahan sendiri yang mengadministrasi tabungan
pegawai-pegawai mereka, perusahaan akan menanamkan uang tersebut
dalam bentuk saham dan perusahaan-perusahaan tersebut. Regulasi
tabungan masa tua ini dikenal dengan nama 401(k), sesuai dengan
pasal yang mengatur masalah hukum perpajakan untuk pensiunan.
Enron juga menerapkan sistem ini dan menanamkan seluruh tabungan
pensiunan dari pegawai-pegawainya dalam bentuk saham perusahaan.
Yang menyedihkan adalah kenyataan saham Enron bernilai 80 dolar AS
per lembar pada bulan Februari 2001 tetapi berharga hanya 26 sen per
lembarnya saat perusahaan itu mengumumkan kepailitan Enron. Berarti,
tabungan dari para pegawai yang bekerja keras selama hidupnya
bernilai kosong sekarang ini.
Yang lebih menyakitkan, para eksekutif Enron yang menerima saham
Enron sebagai bagian dari paket kompensasi mereka, dapat dengan
leluasa menjual saham tersebut ketika saham itu berharga 80 dolar AS
selembarnya, membuat mereka menjadi para milarder. Perbedaan
penjualan saham ini disebabkan oleh peraturan perusahaan dan hukum
perpajakan di Amerika. Pada pekerja dipaksa untuk menahan
saham-saham tersebut walaupun harganya sudah jatuh, sedangkan para
eksekutif berhak menjual saham tersebut kapan pun.
Pada hari Jumat, 24 Januari 2002, korban fatal pertama jatuh.
Clifford Baxter, bekas wakil komisaris Enron bunuh diri dengan
menembak kepalanya. Polisi Houston menemukan mayat Baxter di dalam
mobil Mercedesnya yang diparkir di rumah mewahnya di Houston. Baxter
sendiri telah resmi berhenti bekerja untuk Enron pada bulan Mei 2001
karena tidak tahan melihat bisnis kerja Enron yang tidak beretika.
Polisi menegaskan bahwa Baxter, yang juga dinyatakan sebagai
terdakwa dalam puluhan kasus pengadilan yang diajukan pemegang saham
Enron, dipanggil oleh Congress untuk memberikan kesaksiannya. Tidak
tahan dengan tekanan yang bertambah setiap harinya, Baxter, walau
banyak pihak yakin Baxter tidak akan dikirim ke penjara, mengakhiri
hidupnya dengan menyedihkan.
Dimana Kesalahan Enron?
Kesalahan Enron bukanlah terbatas pada penyelewengan pembukuannya.
Suka atau tidak, perusahaan sebesar Enron tidak akan jatuh apabila
keadaan sekelilingnya berlaku wajar dalam norma-norma etika dan
hukum. Enron tidak akan berani mendirikan kongsi dagang-kongsi
dagang yang sangat kompleks apabila hukum sekuritas Amerika
(Security Law) tidak membiarkan pembukuan terpisah antara induk
perusahaan dan kongsi dagang tersebut. Kalaupun itu terjadi, kongsi
dagang tidak akan bisa bertahan lama bila auditor luar Andersen
bekerja sesuai dengan peraturan etika yang diterapkan oleh badan
tertinggi ikatan akuntan publik (American Institute of Certified
Public Accountants). Keberanian akuntan-akuntan Andersen untuk
"meridhoi" sistem pembukuan terpisah dari Enron tidak berarti banyak
bila Congress menyetujui pemisahan divisi "akunting/auditing" dan
"konsultasi" yang diterapkan oleh Lima Besar. Proposal pemisahan ini
sudah diajukan oleh bekas ketua komisi sekuritas dan perdagangan
Amerika (Securities and Exchange Commission) Arthur Levitt pada
tahun 1999. Proposal itu ditolak mentah-mentah oleh anggota Congress
yang menerima bantuan finansial selama kampanye mereka dari Wall
Street dan Lima Besar. Bantuan finansial itu ternyata (sayangnya!)
masih dalam limit yang legal. Dengan demikian, Congress bisa bekerja
lebih adil bila ada peraturan lebih ketat dalam penerimaan bantuan
kampanye dari perusahaan dan industri. Hal ini juga berlaku untuk
Gedung Putih. Walaupun sampai saat ini belum ada bukti keterlibatan
Gedung Putih dengan kehancuran Enron, jumlah uang kontribusi yang
sangat besar dari Enron untuk sebuah partai atau seorang calon
politikus, cukup menarik kecurigaan dari publik.
Enron adalah contoh dari bisnis yang dibangun berdasarkan ilusi
(House of cards). Hampir seluruhnya terbuat dari kebohongan satu
ditutupi dengan kebohongan yang lain. Sayangnya, banyak pihak yang
rela ikut berpartisipasi dalam drama besar ini karena mereka tahu
bila kebohongan itu sudah terlalu besar dan melibatkan hampir setiap
orang, maka tidak ada pihak lain yang terlihat "tidak berdusta."
Dengan singkat, kisah Enron bisa diartikan sebagai perkawinan antara
ketamakan dari eksekutif perusahaan dan kehausan kekuasaan dari para
politikus.
Satu hal yang harus disadari oleh setiap orang di seluruh dunia
ialah kebijakan untuk mengambil makna dari fiasko besar ini.
Walaupun skandal Enron menyeret hampir seluruh jajaran institusi
terkemuka Amerika, kita tetap harus memiliki keyakinan (faith) bahwa
masih lebih banyak orang Amerika dan instituti-institusinya yang
berpijak pada hukum dan norma yang ada. Akuntan adalah salah satu
profesi tertua dan paling konservatif di dunia, para akuntan
memegang teguh kode etika yang diterapkan dan mereka bangga akan
kebersihan dari nama baik akuntan yang sudah ratusan tahun umurnya.
Pemerintah dan Congress Amerika, lengkap dengan dinamika dan ketidak
sempurnaannya, tetap harus dihargai sebagai salah satu badan
legislatif dan eksekutif yang paling terbuka dan paling efisien.
Masih banyak anggota Congress dan jajaran kabinet yang benar-benar
bekerja untuk menjadikan Amerika sebagai negara yang bersih dan
teratur. Terakhir, walau dengan kehancuran dari perusahaan bernilai
66 triliun dolar AS, Amerika tetap harus diakui sebagai ekonomi
terbesar di dunia. Pasar bebas dan kapitalisme yang diterapkan di
sana tetap berlaku sebagai sistem terbaik dari dunia perdagangan dan
finansial, karena level dari transparansi dan independen yang sangat
tinggi.
Pertanyaan yang paling mengganggu masyarakat Amerika sekarang ini
adalah, perusahaan-perusahaan mana lagi yang menggunakan akuntan
kreatif dalam menyusun neracanya? Apakah firma akuntan yang lain
juga beritikad sama seperti Andersen? Dan yang terakhir, seberapa
banyak anggota Gedung Putih yang menerima uang dari
perusahaan-perusahaan raksasa lainnya? Jawabannya, seperti biasa,
ditiup angin lalu.
Penulis adalah seorang akuntan publik dan pengamat ekonomi..
|