|
Meski Ekonomi Melemah, Bisnis Otomotif Jalan Terus
Pengantar:
Bisnis otomotif adalah salah sektor usaha yang secara perlahan mulai membaik setelah mengalami keterpurukan akibar krisis ekonomi. Meski belum menjukkan hasil yang optimal, angka penjualan kendaraan bermotor, baik roda empat atau roda dua terus membaik pada 2001. Lalu, bagaimana dengan prospek bisnis otomotif di tahun 2002, wartawan SH, Muhammad Nuzulian menuliskannya dalam tiga tulisan.
JAKARTA - Krisis ekonomi yang mendera Indonesia sejak 1988 dan masih belum pulih hingga sekarang, membuat berbagai sektor usaha melemah termasuk bisnis otomotif. Namun, sektor usaha otomotif terus mencoba menggeliat dari krisis dan secara perlahan menunjukkan hasil meskipun belum maksimal.
Penjualan kendaraan bermotor roda empat, misalnya, pada 2000 sempat mencapai angka 300 ribu unit. Angka penjualan tersebut boleh dibilang paling tinggi yang dicapai selama masa krisis. Sebab, pada 1998 dan 1999, angka penjualan roda empat masing-masing hanya 58 ribu unit dan 94 ribu unit. Sedangkan tahun 2001, menurut Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), Bambang Trisulo, sampai pertengahan Desember 2001 sekitar 284 ribu unit kendaraan.
Meskipun ada penurunan penjualan, bisnis otomotif tetap akan jalan terus. Demikian juga di tahun 2002, menurut pengamat otomotif Suhari Sargo, bisnis otomotif akan terus berkembang, meskipun laju permintaan tidak seperti tahun sebelumnya. Di tahun 2002, kata Suhari Sargo, angka penjualan kendaraan roda empat diperkirakan sekitar 270 unit untuk berbagai merek.
Tidak kalah seru adalah pasar kendaraan bermotor roda dua. Angka penjualan kendaraan roa dua di pasar lokal terus meningkat. Jika tahun 2000 angka penjualan sepeda motor hanya mencapai sekitar 1 juta unit, maka di tahun 2001 penjualan sepeda motor melonjak hingga 1,8 juta unit.
Permintaan sepeda motor di pasar lokal diperkirakan akan terus meningkat di tahun 2002. Angka penjualan sepeda motor di tahun 2002 diprediksi akan naik mendekati angka 2 juta unit. Lonjakan permintaan sepeda motor ini tentunya menarik bagi para produsen, termasuk produsen Mocin (Motor Cina), meningkatkan produksinya.
Muncul Model Baru
Menurut Bambang Trisulo, potensi bisnis otomotif di dalam negeri masih besar. Potensi yang besar tersebut dapat dilihat dari adanya merek-merek baru yang mulai memasuki Indonesia. Walaupun pada awalnya, biasanya merek baru masuk dengan mengandalkan jalur impor secara utuh. Namun untuk jangka panjang, tiap merek biasanya akan memanfaatkan fasilitas jalur perakitan. Mengejar volume yang besar mengikuti penjualan di waktu-waktu lalu.
Produsen kendaraan memang terus melakukan inovasi dengan mengeluarkan produk-produk baru. Boleh dibilang setiap penggantian tahun seakan juga harus ada model baru yang diluncurkan ke pasar. Selain menjaga agar pasar tidak jenuh, diluncurkannya model-model baru dari pabrikan-pabrikan kendaraan bermotor roda empat juga bertujuan agar pembeli tetap tertarik memakai merek mobil yang digemarinya.
Beberapa produsen mobil memang telah berancang-ancang mengeluarkan jenis mobil baru. Honda, misalnya, mengeluarkan Honda City Persona dan Type Z yang terbaru. Kedua tipe yang dikeluarkan ini merupakan tipe penyempurnaan dari tipe sebelumnya, facelift.
Begitu juga dengan produsen merek Toyota, mengemas model baru yakni Soluna faceliftnya. Atau Suzuki dengan Aerio, yang telah diperkenalkan sejak Gaikindo Auto Expo beberapa waktu lalu. Itu baru produsen mobil dari Negeri Matahari Terbit.
Produsen kendaraa bermotor dari Eropa juga tidak mau kalah. Pabrikan mobil merek Peugeot mengeluarkan model baru yakni tipe 307, menyusul tipe 206 yang sukses di pasaran, termasuk pasar Indonesia.
Produsen mobil merekVW juga tidak mau kalah. VW mengemas produk baru mereka yakni model dengan julan VW Sharan. Kemudian, pabrikan dari Prancis meluncurkan model Scenic GM.
Produsen mobil dari Korea pun tidak mau ketinggalan. KIA, Hyundai dan Daewoo, yang tahun 2001 gencar meluncurkan banyak model lewat jalur CBU, dikabarkan juga akan mengemas model baru. KIA yang beberapa waktu lalu meluncurkan Carens Grande, dikabarkan akan mengeluarkan New Carnival.
Daya Beli Pasar Lokal
Saat ini, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana daya beli dari masyarakat terhadap produk-produk baru dari berbagai pabrikan mobil ini. Hal ini tentunya juga sangat tergantung pada kondisi perekonomian negara secara menyeluruh. Jika kondisi ekonomi nasional cepat pulih atau membaik, tentu saja permintaan mobil juga akan terus meningkat.
Namun, untuk pasar mobil mewah, diperkirakan pada tahun mendatang akan tetap cerah. Sebab, konsumen mobil mewah biasanya akan selalu mengkiuti perkembagan model baru dari mobil yang digemarinya. Sehingga tidak heran kalau banyak orang bertanya bahwa di saaat krisis seperti ini, mengapa banyak mobil-mobil mewah model baru bersliweran di jalan raya. Bahkan, merek mobil yang sbelum krisis tidak pernah muncul, kini banyak dijumpai di jalanan.
Bisnis otomotif memang unik. Di saat sebagian sektor usaha bertiarap atau mengerem melakukan ekspansi usaha, para pebisnis otomotif malah gencar menwarkan produknya. Iklan ataupun promisi pun gencar dilakukan.
Hal itu dibenarkan salah satu pelaku bisnis advertising yakni Director, Media Strategies dan Analysis PT Advisindo Artistika, Adwin Wibisono. Dikatakan Adwin, sejak tahun 2000 sampai tahun 2001 ini, iklan otomotif termasuk iklan yang sering muncul, walaupun tidak seperti kategori iklan dari produk konsumsi lain yang keluar tiap hari.
Bagi produsen mobil yang baru masuk ke pasar lokal, misalnya produsen mobil dari Korea atau pun Cina, memang harus gencar mempromosikan produknya, termasuk memasang iklan di media massa. ”Tanpa mengiklankan secara terus menerus, sulit bagi mereka untuk menanamkan citra di dalam pikiran target konsumen. Atau dengan cara lain seperti berpameran dan melakukan test drive,” ujar Adwin kepada SH di Jakarta, belum lama ini.
Bakal membaiknya industri otomotif Indonesia juga diungkapkan salah seorang direktur dari perusahan yang memproduksi onderdil kendaraan bermotor.
Menurut sumber SH yang tidak mau disebut namanya karena alasan perusahaannya baru melakukan negosiasi dengan salah satu pabrikan mobil di Indonesia, pulihnya bisnis otomotif akan mempengaruhi sektor usaha lain yang terkait, misalnya bisnis onderdil kendaraan bermotor.
Hanya saja, untuk mempercepat pulihnya bisnis otomotif juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan juga sektor lembaga pembiayaan dalam negeri. Sebab, dengan suku bunga bank yang maish tinggi, tentunya masyarakat akan enggan untuk membeli mobil baru.
Dari sisi produsen, tentunya akan melihat bagaimana posisi pasar lokal yang sbenarnya. Sehingga mereka dapat mengantisipasi dengan produk yang akan diluncurkan ke masyarakat. Namun demikian, maraknya produsen mobil mengemas model baru membuktikan bahwa industri otomotif Indonesia tetap jalan meskipun negeri ini masih belum pulih dari krisis ekonomi.
Secara keseluruhan, menurut Ketua Gaikindo, Bambang Trisulo, bisnis otomotif nasional di masa mendatang memang akan membaik. Kalaupun dalam jangka pendek ini, faktor keamanan dinilai cukup merisaukan bagi semua sektor, termasuk otomotif, namun dalam jangka panjang sektor otomotif memberikan peluang yang besar.
Selain faktor keamanan, faktor lain yang dapat menganggu iklim berbisnis adalah soal otonomi daerah. Karena itu, Bambang mengimbau agar pemerintah terus berusaha menstabilkan keamanan yang dapat mengganggu kegiatan bisnis, serta jangan sampai otonomi daerah menghambat dengan berbagai peraturan yang berbeda satu dengan daerah yang lain. “Sejauh daerah tidak over acting dalam menerapkan peraturan, hal itu tidak masalah bagi perkembangan bisnis otomotif nasional” kata Bambang Trisulo. (*)
|