HARIAN UMUM SORE


Rabu, 14 November 2001

Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih

No.  3964


Halaman Utama
Tajuk Rencana
Nasional
Ekonomi
Jabotabek
Nusantara
Luar Negeri
Olah Raga
Iptek
Feature
Hiburan
Opini
Foto
Karikatur
Komentar Anda
Tentang SH

 

 

Pemutaran Film Pendek di Graha Bhakti Budaya
Cukup Menjanjikan,tapi Sepi Penonton

Jakarta, Sinar Harapan
Di tengah lesunya perfilman nasional, ternyata masih ada segelintir anak muda yang mencoba untuk tetap berkarya. Meski sekadar film pendek, paling tidak karya-karya mahasiswa dan alumni fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2000-2001 dalam rangka merayakan ulang tahun Taman Ismail Marzuki (TIM) yang ke-33 ini, bisa menjadi tanda bahwa film nasional masih ada gairah dan harapan untuk bangkit kembali.
Dari tujuh film yang diputar, sebagian di antaranya merupakan tugas akhir. Yang pertama, berjudul Huuuh karya sutradara Erna berdurasi 11 menit. Film yang memadukan dengan gambar animasi ini menceritakan sebuah kisah sederhana dengan setting yang sederhana pula, hanya sebuah ruangan yang dilengkapi dengan sebuah sofa, meja kecil, lampu dan televisi. 
Film ini hendak mengisahkan seorang remaja laki-laki yang merasa terganggu curhat temannya yang baru putus cinta. Alih-alih mendengarkan sang teman, ia malah asyik menyaksikan pertunjukan band rock favoritnya di televisi sembari asyik makan keripik kentang. 
Sang sutradara cukup kreatif, ketika menggambarkan ketidaksukaan anak remaja tadi terhadap curhat sang teman. Dari mempercepat suara hingga menggambarkan khayalan sang remaja dengan animasi. 
Melalui filmnya ini, tampaknya sang sutradara hendak menunjukkan gaya anak muda zaman sekarang, nakal dan cuek, yang tidak peduli dengan sesuatu yang tidak disukainya.
Film kedua berjudul Don’t Touch karya Andy Nugroho yang berdurasi 13 menit. Tanpa ada kata-kata verbal—hanya narator yang bercerita—film ini efektif menyampaikan pesan bahwa narkoba hanya membawa kesengsaraan. Dengan teknik monokrom plus akting aktornya yang meyakinkan (menyuntikkan jarum ke lengannya), karya Andy ini berhasil memukau penonton. 

Menggelitik
Berikutnya, film Saat Menyatakan Cinta karya sutradara Eric Gunawan. Film berdurasi 16 menit inipun lebih banyak menggunakan bahasa gambar. Bahkan film ini sama sekali tidak menggunakan dialog dan narator, sehingga penonton kesulitan menangkap pesan yang hendak disampaikan. 
Angin Kemarau karya sutradara Lono Abdul Hamid mengangkat tema cukup menarik. Film berdurasi 16 menit ini menceritakan kisah anak laki-laki bernama Satria yang tumbuh menjadi waria akibat kekagumannya pada sang ibu. Film ini berani menampilkan adegan yang mempertontonkan dada telanjang. Sayang, film ini kurang menceritakan lebih jauh apa yang mendorong Satria mengagumi ibunya dan menjelma menjadi seorang waria.
Film kelima Untuk Secangkir Kopi karya Lintang Pramudyawardana yang dibuat sebagai karya akhir dan mendapat penghargaan sebagai film pendek terbaik 2001 dari IKJ. Sesungguhnya, tak ada yang istimewa dalam film ini. Yang menjadi kelebihan film ini barangkali dari segi pesan moral dan akting aktor utamanya, Joseph Ginting. Tampil sebagai sosok bapak mata keranjang, yang pulang ke rumah, hanya karena kangen minum kopi buatan istrinya.
“Film ini memang sengaja dibuat untuk menggambarkan seorang suami yang selingkuh, pada akhirnya akan ingat untuk kembali pulang ke rumahnya. Tapi namanya manusia, pada akhirnya sang suami tak tahan godaan dan kembali ke kebiasaannya, yakni selingkuh,” ujar Lintang.
Justru film berikutnya, Hati-hati Malam-malam yang cukup menggelitik dan penuh kejutan. Film garapan sutradara Viet Helmer hasil kerja sama Goethe Institut dengan mahasiswa IKJ ini, sesungguhnya hanya mengangkat tema sederhana. Berkisah tentang seorang perempuan dan supir bajaj. Di tengah perjalanan, penonton diyakinkan bahwa sang supir bajaj adalah laki-laki nakal yang gemar menggoda perempuan. Tapi, endingnya berkata lain.
Film terakhir, D.A.R.K. (Di Atas Rel Kereta) karya sutradara Nanang Istiabudhi berdurasi 24 menit, sungguh layak disimak. Diangkat dari cerpen Di atas Rel Kereta Listrik karya Hamsad Rangkuti yang juga bermain sebagai tokoh utama, film ini bercerita tentang sketsa kota Jakarta dengan pernak-pernik kriminalitas dan ketidakacuhan terhadap sesamanya. Klimaks film ini, terjadi ketika sekelompok pelajar SMU membunuh seorang pelajar dari SMU lain dan tak seorang pun berani melawan kekejaman itu.

Angin Segar
Terlepas masih ada sejumlah kelemahan, terutama di segi cerita, pemutaran film pendek ini cukup membawa angin segar. Apalagi, semangat para pembuatnya boleh dibilang hebat. Contohnya, Lintang dan kawan-kawan yang kehabisan uang ketika memasuki hari ketiga pembuatan film Untuk Secangkir Kopi. “Maklum, ini semua biaya patungan,” ujarnya. Semua film pendek yang ditampilkan, meskipun tema yang diangkat sederhana, cukup membumi dan diambil dari kehidupan sehari-hari yang selama ini tidak ditampilkan melalui sinetron. Jika digarap serius, bisa jadi di masa mendatang akan muncul film-film layar lebar yang lebih realistis dan berkualitas.
Sayangnya, pemutaran film pendek ini, sepi dari penonton. Kapasitas gedung yang mampu menampung sekitar 700-800 orang, hanya diisi tak lebih dari 50 orang, itupun hanya sebatas undangan saja. Seharusnya, ajang seperti ini akan jauh lebih baik, jika terbuka untuk umum agar apresiasi dan kepedulian terhadap film nasional –meskipun hanya film pendek dan karya mahasiswa IKJ—tetap terjaga. (din)

Halaman muka | Tajuk Rencana | Nasional | Ekonomi | Jabotabek | Nusantara | Luar Negeri |
Olah Raga
| Iptek | Feature | Hiburan | Opini | Foto | Karikatur | Tentang SH | Komentar Anda

Copyright © Sinar Harapan 2001